Qodlo’ Sholat Ba’da Haid

Tanya : Ketika aku sedang sholat, tiba-tiba datang bulan. Perlukah aku mengqadla shalat dari saat datangnya?
Jawab :
Jika datangnya haid setelah masuk waktu shalat, umpamanya beberapa saat setelah tergelincir matahari, maka setelah bersuci ia wajib mengqadla shalatnya, berdasarkan firman Allah berikut : �Sesungguhnya shalat fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.� (QS. An-Nisa:103).

Selama waktu haid, shalat tak wajib diqadla sebagaimana dipaparkan oleh hadits berikut: �Bukankah wanita yang sedang haid dilarang shalat dan shaum?�

Ulama bersepakat bahwa shalat yang tidak senpat dituntaskan karena datang haid, tidak wajib diqadla. Kecuali jika haid telah berhenti (suci) dan waktu shalat masih ada, maka shalat wajib ditunaikan berdasarkan sabda Rasul Shalallahu ”alaihi wa sallam. Berikut : �Barang siapa masih sempat mendapatkan satu raka�at Ashar sebelum matahari terbenam, berarti ia telah mendapatkan Ashar seutuhnya�.

Jika yang haid telah suci pada waktu Ashar atau sebelum terbit mentari hingga masih sempat ditunaikan satu raka�at, maka hendaklah shalat ditunaikan baik pada shalat Ashar atau shalat fajar.

Tanya : Tiga tahun silam, sama sekali aku tidak shalat. Setelah itu perilakunya berubah dan penuh dan penuh harapan semoga Allah menerima taubatku. Agar taubatku menjadi taubat nasuha, maka aku kembali rajin shalat termasuk berjamaah dimasjid serta berusaha meninggalkan segala hal yang menipu agamaku atau mencoreng akhlakku. Bolehkah aku mengqadla shalat yang tertinggal selama tiga tahun itu dan bagaimana caranya? (R.Sy. karyawan koperasi, Perancis).

Jawab :
Saudara tidak wajib mengqadla atas apa yang telah lewat mengingat dua hal :

(1)
meninggalkan shalat adalah murtad dan membuat pelakunya kafir menurut pendapat terkuat yang memegang nash Al-Qur�an dan hadits. Dengan demikian, kembalinya saudara kepada Islam, berarti dosa-dosa yang lalu terhapus sebagaimana firman Allah : �Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu : �Jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa nereka yang telah lalu� (QS. Al-Anfal:38).

(2) Orang yang meninggalkan ibadah (shalat) yang sudah tentu waktunya lalu bertaubat, maka ia wajib mengqadlanya, karena ibadah yang telah tentu waktunya telah ditetapkan oleh pembuat sya�ra (Allah) baik awal atau akhirnya. Nabi Shalallahu ”alaihi wa sallam Bersabda: �Barang siapa yang melakukan sesuatu amal yang tidak ada dasarnya dari kami, maka ia ditolak�.

Dalam masalah seperti ini tidak berlaku hadits bahwa barang siapa yang tidur atau lupa hingga tertinggal shalat, maka shalatlah ketika ingat. Dan tidak berlaku firman Allah yang menegaskan: �Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu� (QS.Al-baqoroh:185).

Sebab menangguhkan kewajiban disini dibenarkan alasannya. Mengqadla sesuatu yang dibenarkan alasannya sama nilainya dengan menunaikannya. Dengan demikian, saudara tidak wajib qadla atas apa yang telah lalu.

(Hal. 33 dan 44, Tanya Jawab, FATWA-FATWA AL-�UTSAIMIN, Cetakan Ke-1, 1997)

About these ads

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: