<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ngaji Salaf :: Ø£Ù‡Ù„ Ø§Ù„Ø³Ù†Ø© Ø¸Ø§Ù‡Ø±ÙˆÙ† Ø¥Ù„Ù‰ ÙŠÙˆÙ… Ø§Ù„Ù‚ÙŠØ§Ù…Ø©</title>
	<atom:link href="http://ngajisalaf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ngajisalaf.wordpress.com</link>
	<description>Kebangkitan Ahlus Sunnah Wal Jamaah Sepanjang Zaman</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 18:27:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ngajisalaf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ngaji Salaf :: Ø£Ù‡Ù„ Ø§Ù„Ø³Ù†Ø© Ø¸Ø§Ù‡Ø±ÙˆÙ† Ø¥Ù„Ù‰ ÙŠÙˆÙ… Ø§Ù„Ù‚ÙŠØ§Ù…Ø©</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ngajisalaf.wordpress.com/osd.xml" title="Ngaji Salaf :: Ø£Ù‡Ù„ Ø§Ù„Ø³Ù†Ø© Ø¸Ø§Ù‡Ø±ÙˆÙ† Ø¥Ù„Ù‰ ÙŠÙˆÙ… Ø§Ù„Ù‚ÙŠØ§Ù…Ø©" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ngajisalaf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Shalat jenasah dikuburan</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalat-jenasah-dikuburan/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalat-jenasah-dikuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalat-jenasah-dikuburan/</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya untuk Allah Azza wa Jalla. kita memujinya, dan mememohon pertolongan kepadanya dan memohon ampunan kepadanya. kami beraksi tidak ada Sesembahan yang haq disembah selain Allah, dan Muhammad shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam adalah benar-benar utusannya. shalawat serta salam semoga selalu tercurahan kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, Shahabatnya dan para pengikutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=87&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Segala puji hanya untuk Allah Azza wa Jalla. kita memujinya, dan mememohon pertolongan kepadanya dan memohon ampunan kepadanya. kami beraksi tidak ada Sesembahan yang haq disembah selain Allah, dan Muhammad shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam adalah benar-benar utusannya. shalawat serta salam semoga selalu tercurahan kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, Shahabatnya dan para pengikutnya hingga hari kiamat.<br />
<span id="more-87"></span>Allah berfirman <strong>Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah dengan sebenar-benarnya Taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan islam.</strong></p>
<p>Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulallah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid&#8221;ah dan setiap bid&#8217;ah adalah sesat dan setiap keseatan tempatnya di neraka.</p>
<p>Bid&#8221;ah adalah perkara yang sangat besar dalam agama ini sampai-sampai Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berbuat sesuatu ibadah agar tidak masuk ke dalam jurang kebid&#8217;ahan. karena sungguh syaithan lebih menyenangi kebid&#8217;ahan dari pada dosa besar sekalipun. karena orang yang berbuat dosa besar mengetahui kalau dia melakukan dosa besar dan sangat mungkin dia setelah melakukannya kemudian bertobat. akan tetapi orang yang berbuat bid&#8217;ah akan menganggap hal dilakukannya ialah berasal dari agama dan sulit sekali bila ia tidak disadarkan untuk kembali kepada kebenaran dan meninggalkan bid&#8217;ah tersebut.</p>
<p>Menanggapi pernyataan dari al-akh saguh (di buku tamu) bahwasannya antum telah menganggap shalat dikuburan adalah bid&#8217;ah. dan itu adalah benar adanya banyak sekali hadits-hadits yang melarang kita untuk melakukan shalat yang dikuburan. akan tetapi yang dimaksud diperbolehkannya shalat dikuburan apabila seseorang belum menyolatkan mayit dan dia berkeinginan untuk menyolatkannya. dan <strong>shalat yang dilakukannya ialah shalat jenasah, bukan shalat sunat lainnya</strong>.yaitu shalat yang hanya dilakukan dengan 4 takbir tanpa ruku&#8217; dan tanpa sujud.</p>
<p>Kami bawakan beberapa hadits yang insya Allah bisa menjadi dasar atas tulisan ini</p>
<p>pertama : <strong>dari ibnu Abbas Radiallahu &#8216;anhu katanya Ada seseorang meninggal, yang Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam pernah mengunjunginya waktu ia sakit. Dia meninggal malam hari, dan dikuburkan malam hari itu juga. tatkala hari telah subuh, mereka (para shahabat) mengabarkan pada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam. Rasulullah bertanya,mengapa tidak diberitahukan kepadaku sebelum ini? jawab mereka kami tidak suka memberitahukannya, karena hari sudah malam dan gelap, kami khawatir akan menyulitkanmu (rasulullah).</strong> lalu beliau pergi kekuburnya dan shalat atas orang yang meninggal itu(Shahih HR. Bukhari dalam shahihnya jilid 2 bab jenasah hadits no. 654).</p>
<p>kedua : <strong>Dari Abdullah ibnu Abbas r.a. berkata,Rasulullah lewat dekat kuburan yang baru semalam dikuburkan. lalu beliau bertanya : kapan mayat ini dikuburkan.? jawab mereka :semalam. beliau berkata mengapa tidak diberitahukan kepadaku? jawab mereka kami kuburkan dia tengah malam, hari sangat gelap. karena itu kami tidak mau membangukanmu. nabi shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam berdiri dan kami berbaris dibelakangnya untukl shalat. kata ibnu Abbas dan aku bersama mereka dan sholat bersama mereka.</strong> (HR bukhari dalam kitab shahihnya juz 2 bab jenasah no. 688).</p>
<p>ketiga : <strong>dari abu Hurairah r.a. tentang kisah seorang wanita yang pekerjaanya menyapu mesjid, lalu beliau Shallallahu &#8216;alaihi wasallam menanyakannya dan dijawab oleh mereka semua dia telah emninggal dunia, kemudian beliau bersabda Kenapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? seolah-olah dianggap remeh oleh mereka tentang masalah ini.lalu sabdanya coba kalian tunjukkan kuburnya kepadaku! maka segeralah mereka menunjukkannya dan beliau mensholatinya.</strong>(bulughul maram bab tentang jenasah hadits no. 577). muslim dalam tambahannya :&#8230;.lalu beliau bersabda Kubur ini semula penuh kegelapan bagi penghuninya, tapi berubah, diterangi oleh Allah berkat shalatku untuk mereka.(HR.Bukhari,muslim,abu daud,ibnu majah, al-baihaqi, ath-thayalusi dan ahmad)</p>
<p>dan masih ada beberapa hadits lagi yang menjelaskan tentang hal shalat jenasah dikuburan ini. silahkan dilihat pada tuntunan lengkap mengurus jenasah bab perihal shalat jenasah oleh Syaikh Albani. halaman 92-95.<br />
dan syaikh albani memberikan keterangan Semestinya mayat dishalati sebelum dikubur, atau bila sebagian menshalati sedang sebagian yang lain belum menshalatinya, maka menshalatinya setelah dikubur. Akan tetapi dengan persyaratan sang imam tidak termasuk kelompok yang telah menshalati sebelum dikubur.</p>
<p>sekian. mudah-mudahan ini dapat menjawab pernyataan dari al-akh saguh. yang benar datangnya dari Allah dan yang salah datangnya dari syaithan dan karena kejahilan kami tentang ilmu. dan kami memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla.<br />
Allahu A&#8217;lam</p>
<p>Maraji&#8217;<br />
1. Shahih bukhari jilid 2 bab jenasah al-Imam Al-Bukahri<br />
2. Bulughul maram bab jenasah al-Imam Ibnu Hajar al-Ashqolani<br />
3. Tuntunan lengkap mengurus jenasah Al-Imam Al-Albani</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=87&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalat-jenasah-dikuburan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haramnya Pemimpin Wanita</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/haramnya-pemimpin-wanita/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/haramnya-pemimpin-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/haramnya-pemimpin-wanita/</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia gerakan ini mencapai puncaknya beberapa waktu lalu ketika seorang wanita diangkat sebagai presiden negara kita ini. Dan ironinya mereka yang ikut beraklamasi menaikkan wanita tersebut ke kursi kepersidenan sebagian besar adalah beragama Islam. Diantara alasan mereka adalah tidak ada ayat yang secara tegas melarang wanita menjadi pemimpin. Dalam Al-Qur-an tidak terdapat ayat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=86&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Di Indonesia gerakan ini mencapai puncaknya beberapa waktu lalu ketika seorang wanita diangkat sebagai presiden negara kita ini. Dan ironinya mereka yang ikut beraklamasi menaikkan wanita tersebut ke kursi kepersidenan sebagian besar adalah beragama Islam. Diantara alasan mereka adalah tidak ada ayat yang secara tegas melarang wanita menjadi pemimpin. Dalam Al-Qur-an tidak terdapat ayat yang menggungkan kalimat larangan yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin pemerintah atau negara. Oleh karena itu, adanya pendapat yang melarang perempuan memerintah atau menjadi pemimpin tidak berdasarkan nash Al-Qur-an.<br />
<span id="more-86"></span>Maka kita katakan:<br />
Pola kalimat yang dipergunakan Al-Qur-an adalah pola kalimat bahasa Arab. Oleh karena itu, untuk mengetahui ada tidaknya larangan yang dimaksud haruslah kembali kepada pola-pola kalimat bahasa Arab yang menjadi bahasa Al-Qur-an itu sendiri.</p>
<p>Pola kalimat Al-Qur-an dalam menetapkan suatu larangan ada kalanya dalam bentuk fiï¿½il nahi, (kata kerja larangan) atau bentuk laa nafiyah (pembatalan umum) atau berupa kalimat berita tetapi maksudnya mengandung larangan. Salah satu dari tiga bentuk kalimat di atas dalam bahasa Arab merupakan bentuk kalimat larangan. Begitu juga dalam hal perintah sama polanya dengan yang berlaku dalam larangan.</p>
<p>Contoh larangan dalam bentuk <strong>fiï¿½il nahi</strong>, antara lain:<br />
<em>ï¿½dan janganlah kamu mendekati zinaï¿½ï¿½</em> (QS. Al Israaï¿½ (17) : 32)<br />
<em>ï¿½dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik hingga ia sampai usia dewasaï¿½ï¿½ </em>(QS. Al Anï¿½aam (6) : 152)<br />
<em>ï¿½hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendekati shalat ketika sedang mabukï¿½ï¿½ </em>(QS. An-Nisaaï¿½ (4) : 43)</p>
<p>Contoh larangan dalam bentuk <strong>laa nafiyah</strong>, antara lain:<br />
<em>ï¿½ Allah, tidak ada Ilah kecuali Diaï¿½ï¿½ </em>(QS. Al-Baqarah (2) : 255)<br />
Ayat ini menafikan semua sesembahan dan hanya Allah yang berhak disembah.</p>
<p><em>ï¿½Orang yang berkecukupan dan berkelapangan di antara kamu tidak memutus pemberian bantuan nafkah kepada kerabat dekatï¿½ï¿½ </em>(QS. An-Nuur (24) : 22)</p>
<p>Ayat ini melarang orang-orang yang mampu memutus bantuan kepada keluarga dekatnya karena hatinya disakati atau karena ia membencinya.</p>
<p>Contoh larangan dalam bentuk <strong>kalimat berita</strong>, antara lain:<br />
<em>ï¿½perempuan-perempuan yang telah diceraikan, mereka menunggu tiga masa quruï¿½ bagi diri merekaï¿½ï¿½ </em>(QS. Al-Baqarah (2): 228)<br />
Kalimat tersebut mengandung larangan kepada perempuan yang dicerai untuk menikah selama masa iddah (3 kali bersih dari haidh).</p>
<p><em>ï¿½dia bermasam muka dan berpaling ketika seorang buta datang kepadanya.ï¿½ </em>(QS. ï¿½Abasa (80) : 1 ï¿½ 2)<br />
Kalimat di atas mengandung larangan bermuka masam dan memalingkan muka dari orang lain.</p>
<p>Pelanggaran terhadap larangan dalam bentuk fiï¿½il nahi ada toleransinya, yaitu kelonggaran darurat, misalnya:</p>
<p><em>ï¿½ï¿½Dan janganlah kamu membunuh suatu jiwa kecuali dengan jalan yang hakï¿½ï¿½ </em>(QS. Al-Anï¿½aam (6) : 151)</p>
<p>Pelanggaran terhadap larangan bentuk laa nafiyah pun ada toleransinya, yaitu kelonggaran darurat, misalnya:<br />
<em>ï¿½Barangsiapa kafir kepada Allah setelah menyatakan beriman, kecuali karena dipaksa sedangkah hatinya mantap dengan keimanannya (maka tidak berdosa). Akan tetapi, barangsiapa menyatakan kekafiran dengan sukarela maka mereka mendapatkan murka dari Allah dan mereka mendapatkan siksa yang berat.ï¿½ </em>(QS. An-Nahl (16) : 106)</p>
<p>Kalimat larangan yang paling berat justru dalam bentuk kalimat berita yang menerangkan sunnah thabiiï¿½iyyah (hukum tetap penciptaan atau ketentuan paten yang berlaku universal). Pelanggaran terhadap sunnah thabiiï¿½iyyah akan menghancurkan pelanggarnya sendiri. Pelanggaran terhadap sunnah thabiiï¿½iyyah sama sekali tidak ada toleransinya sebagaimana disebutkan dalam QS. Fathir (35) : 43.</p>
<p><em>ï¿½ï¿½Engkau tidak akan pernah menemukan sunnah Allah itu berubah dan engkau tidak akan pernah menemukan sunnah Allah itu bertukar dengan yang lain.ï¿½ </em></p>
<p>Contoh-contoh dari sunnah thabiiï¿½iyyah manusia, antara lain:<br />
- Orang tua menuntut penghargaan dari anak.<br />
- Anak menuntut perlindungan dari orang tua.<br />
- Suami menuntut penghormatan dari istri.<br />
- Istri menuntut jaminan pengayoman dari suami.<br />
- Hubungan kerabat menuntut kerukunan dan sikap tolong menolong.<br />
- Pemimpin menuntut kepatuhan dari yang dipimpin.</p>
<p>Hal-hal yang bersifat sunnah thabiiï¿½iyyah seperti ini bila penyajiannya menggunakan kalimat berita, menunjukkan kepada maksud larangan atau perintah.</p>
<p>Masalah kepemimpinan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan negara adalah masalah yang bersifat sunnah thabiiï¿½iyyah.</p>
<p>Larangan A-Qur-an tentang wanita menjadi pemimpin pemerintah atau negara disebutkan dalam kalimat berita sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah (2) : 228:</p>
<p><em>ï¿½ï¿½dan bagi laki-laki mempunyai hak satu derajat lebih terhadap mereka (perempuan)ï¿½ï¿½ </em></p>
<p>Kalimat pada ayat ini menurut para ahli balaghah (ahli bahasa) disebut kalimat qashr, karena khabar-nya ditempatkan di depan mubtadaï¿½ï¿½-nya (atau M di depan D pada pola kalimat MD). Bila disusun dengan mubtadaï¿½ di depan dan khabar dibelakang, kalimat itu berbunyi : ï¿½satu derajat bagi kaum laki-laki terhadap kaum perempuanï¿½. Kalimat tersebut hanya berbentuk pemberitahuan yang tidak memiliki penetapan khusus yang normatif. Akan tetapi, dengan kalimat yang tersusun pada ayat yang mendahulukan khabarï¿½ daripada mubtadaï¿½nya, diperolah penetapan yang normatif dan khusus serta bersifat universal sebagai sunnah thabiiï¿½iyyah. Dengan demikian penyimpangan dari penetapan ini suatu pelanggaran terhadap ketetapan Allah yang bersifat sunnah thabiiï¿½iyyah.</p>
<p>Orang yang merasa tidak puas dan terus menuntut adanya nash Al-Qur-an yang secara tegas melarang perempuan menjadi pemimpin pemerintah, harus berlaku jujur dengan cara berpikirnya dalam menghadapi persoalan-persoalan lain yang dalam Al-Qur-an tidak ada larangannya seara tegas tetapi hukumnya diterima sebagai satu ketetapan yang tidak boleh dilanggar.</p>
<p>Contoh : perempuan yang tengah menjalani iddah dilarang menikah dengan lelaki lain, padahal tidak ada larangan secara tegas dan khusus mengenai masalah ini. Yang ada adalah suatu ketetapan umum sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah (2) : 228 yang sama sekali tidak menyebut larangan menikah dengan lelaki lain dalam masa iddah ini.<em> ï¿½Dan perempuan-perempuan yang di thalaq mereka itu menahan dirinya tiga kali masa bersih (quruï¿½) dan mereka tidak dihalalkan merahasiakan apa yang telah Allah ciptakan dalam rahim mereka jika mereka benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Akan tetapi bekas suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam masa iddah itu kalau mereka menginginkan perdamaian. Bagi perempuan itu mendapatkan hak sepadan dengan kewajiban mereka secara maï¿½ruf dan bagi laki-laki mempunyai hak satu derajat lebih terhadap mereka dan Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.ï¿½ </em></p>
<p>Secara jelas pada ayat di atas tidak terdapat larangan bagi perempuan dalam masa iddah untuk menikah dengan laki-laki lain. Apakah karena alasan tidak adanya larangan tegas secara khusus itu kita boleh atau halal menikahkan seorang perempuan dalam masa iddah dengan lelaki lain? Dalam kasus ini tidak seorangpun ahli tafsir atau ahli fiqh yang berani menyatakan pendapatnya seperti itu. Bahkan orang-orang yang tidak memahami seluk-beluk mengenai hukum Islam pun tidak berani berpendapat seperti itu. Oleh karena itu, kita meminta kepada orang-orang yang menuntut adanya ayat yang tegas melarang perempuan menjadi pemimpin pemerintah atau negara berlaku adil dalam menuntut dalil dan berpikir adil dalam mendudukkan permasalahannya.</p>
<p>Jadi tidak benar bahwa tidak ada larangan perempuan menjadi pemimpin pemerintah atau negara seperti yang diisukan oleh orang-orang yang tidak mengerti pola-pola Al-Qur-an dalam merumuskan kalimat-kalimatnya.</p>
<p>Dr. Rabiï¿½ bin Hadii Al-Madkhali menjelaskan, orang laki-laki tetap memiliki beberapa kelebihan yang tidak bisa disamai wanita. Islam melebihkan laki-laki atas wanita sejak lahirnya. Islam mensyariï¿½atkan aqiqah bagi anak laki-laki dengan menyembelih dua ekor domba, sedangkan untuk wanita cukup satu domba.</p>
<p>Selagi keduanya masih bayi, maka kencing bayi wanita harus dicuci, sedangkan kencing bayi laki-laki cukup diperciki air saja. Dalam pembagian warisan, untuk laki-laki sama dengan bagian dua wanita. Dalam lapangan hukum, politik, pemerintah dan jihad, maka Islam melimpahkan semua tanggung jawab ke pundak laki-laki yang dapat dipercaya. Rasulullah SAW tidak pernah mengangkat seorang wanita sebagai komandan pasukan perang dan juga sebagai pemimpin pengiriman pasukan. Beliau juga tidak mengangkat wanita sebagai pemimpin manusia, apalagi mengangkat sebagai pemimpin suatu wilayah. Beliau juga tidak mengangkat wanita sebagai imam shalat dan penyeru adzan. Dalam masalah kesaksian dan ibadah maka Rasulullah Shalallahu &#8221;Alaihi Wasallam bersabda tentang kondisi wanita: <em>ï¿½Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang kurang akal dan agamanya.ï¿½ </em>Dalam maslalah nikah maka wanita tidak bisa menikahkan dirinya sendiri, juga tidak bisa menikahkan orang lain.</p>
<p>Dr. Rabiï¿½ melanjutkan, Tentunya engkau sudah tahu salah satu dari dua sebab kepemimpinan, yaitu kelebihan laki-laki daripada wanita.</p>
<p>Lalu bagaimana sikap kita terhadap keadaan kita sekarang? Ikuti pembahasan mengenai Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Pemerintah Yang Tidak Syah Secara Syari&#8221;at.</p>
<p><strong> Marajiï¿½:</strong><br />
- Muhammad Thalib,ï¿½17 Alasan Membenarkan Wanita Menjadi Pemimpin dan Analisisnyaï¿½.<br />
- Hartono A. Jaiz, ï¿½Polemik Presiden Wanitaï¿½.</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=86&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/haramnya-pemimpin-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Maulid Nabi</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/hukum-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/hukum-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/hukum-maulid-nabi/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Senin, 12 Rabi&#8217;ul awwal 1422 H atau 4 Juni 2001 pada umumnya kalender yang terbitan (percetakan) Indonesia ditandai dengan warna merah&#8211;umumnya warna merah pada kalender ini banyak orang yang senang dibuatnya&#8211;yang menandakan telah terjadinya suatu peristiwa bersejarah. bagi kaum Muslimin peristiwa itu tidak asing lagi, yakni hari dan bulan dilahirkannya seorang yang terpilih, Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=85&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Hari Senin, 12 Rabi&#8217;ul awwal 1422 H atau 4 Juni 2001 pada umumnya kalender yang terbitan (percetakan) Indonesia ditandai dengan warna merah&#8211;umumnya warna merah pada kalender ini banyak orang yang senang dibuatnya&#8211;yang menandakan telah terjadinya suatu peristiwa bersejarah. bagi kaum Muslimin peristiwa itu tidak asing lagi, yakni hari dan bulan dilahirkannya seorang yang terpilih, Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
<span id="more-85"></span>Terdapat banyak ungkapan/ekspresi dalam mensikapi hari bersejarah tersebut. ada yang biasa-biasa saja, sebagaimana mensikapi hari-hari lainnya, ada yang mempunyai perasaan tertentu, ada yang bergembira&#8211;mungkin karena hari itu libur&#8211;bahkan ada yang mengadakan semacam upacara ritual ibadah tertentu, &#8216; ala kulli hal semuanya tidak terlepas dari tiga sikap yakni sikap berlebih-lebihan, meremehkannya (dua sikap ghuluw di atas merupakan perangkap syetan, bagi syetan tidak perduli kemanakah manusia condongnya dampaknya akan sama saja) dan yang bersikap wasath &#8216;pertengahan&#8217;.</p>
<p>kita sebagai seorang muslim yang baik, salafiyun, tentunya mempunyai sikap dan pendirian yang berdasarkan tuntunan syari&#8217;at dalam suatu perkara, sehingga tidak terjebak dalam perangkap syetan itu ketika mensikapi suatu masalah. sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan&#8211;yang sesuai syar&#8217;i tentunya&#8211;atau orang istilahkan &#8216;moderat&#8217;.</p>
<p>Sebenarnya bagaimana sih tuntunan salaf dalam hal ini?, terutama yang kita soroti adalah mereka yang terjebak dalam sikap berlebih-lebihan dalam memperingati maulid Nabi shalallahu &#8221;alaihi wa sallam&#8211;yang dominan di kalangan kaum Muslimin Indonesia.</p>
<p>Jika kita melihat ke belakang, yakni pada jaman keemasannya Islam, pada jaman di mana Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam masih hidup, jamannya para shahabat ridhwanullah &#8216;alaihim jaami&#8217;an, atau jamannya para tabi&#8217;in atau juga jamannya para tabi&#8217;ut-tabi&#8217;in (itulah jaman keemasannya Islam, sebaik-baiknya jaman) maka tidak akan kita jumpai peringatan mengenai Maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam semacam yang terjadi di negeri kita ini, apakah mereka lupa ataukah bagaimana&#8230;, sehingga tidak terdapat nukilan dari mereka mengenai peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Sebenarnya, peringatan maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam bagaimanapun bentuknya memang tidak ada tuntunannya dalam syari&#8217;at, tidak ada nash atau dalil yang mendukung perbuatan tersebut.</p>
<p>Tapi juga kan tidak ada nash atau dalil yang melarang untuk melakukan perbuatan tersebut jadi sah-sah saja, bahkan ini menunjukkan syi&#8217;ar islam, menunjukkan kecintaan kita kepada Rasulullah shalallahu &#8221;alaihi wa sallam, apakah anda ini tidak cinta pada Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan melarang perbuatan kami ini Mungkin itu&#8211;dan semacamnya&#8211;bantahan (baca: syubhat) yang muncul ketika kita menjelaskan pada mereka tentang tidak adanya dalam syari&#8217;at Islam mengenai peringatan maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Jawabannya&#8230;, bahkan (harus) kita sangat mencintai beliau shalallahu &#8216;alaihi wa sallam, cinta kita kepada beliau shalallahu &#8216;alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada kedua orang tua kita, bahkan kepada diri kita sendiri, setiap nama beliau shalallahu &#8216;alaihi wa sallam disebut kita mengucapkan shalawat kepada beliau shalallahu &#8216;alaihi wa sallam kita mengerjakan sunnah-sunnah (tradisi, kebiasaan)nya yang tentunya dengan cara yang benar sesuai dengan syari&#8217;at, tidak ngawur atau mengarang sendiri lalu dicarikan pembenarannya lewat Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang dipaksakan.</p>
<p>Adalah keliru jika dikatakan tidak ada larangan dalam melakukan perbuatan tersebut, karena perbuatan tersebut termasuk ibadah, yang di mana ada suatu kaidah yang menyatakan Semua perbuatan &#8216;ibadah terlarang untuk dikerjakan hingga didapatkan dalil yang memerintahkannya, perlu diketahui kaidah ini tidak asal dibuat namun diambil dari Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah&#8211;kalau ada kesempatan akan dijelaskan insya&#8217; Allah.</p>
<p>Kesimpulannya perbuatan memperingati maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah bid&#8217;ah, bukan termasuk dari syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Islam, tidak ada tuntunannya dalam syari&#8217;at, sunnahnya kita hindari atau tinggalkan perbuatan tersebut. hendaknya kita mencukupkan diri dengan sunnah yang ada, sunnah-sunnah yang dikerjakan oleh Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para shahabat yang lurus lagi terbimbing</p>
<p>Kalau antum perhatikan maka mereka yang melakukan ritual tersebut&#8211;maulid Nabi Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8211;kebanyakan kualitas keislamannya kurang dari segi ilmu dan amal shaleh, bahkan banyak di antara mereka yang meninggalkan shalat berjama&#8217;ah di masjid&#8211;yang itu merupakan kewajiban bagi seorang laki-laki muslim&#8211;padahal itu adalah syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Islam yang sangat jelas dan agung. tambahan pula maulid Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam mirip dengan natalnya orang nashara&#8211;memperingati kelahiran, padahal kita dilarang untuk tasyabbuh &#8216;menyerupai&#8217; mereka dan dianjurkan untuk menyelisihi mereka. masih banyak lagi bantahan mengenai peringatan ini yang kalau dijelaskan akan berlembar-lembar halaman, bagusnya antum baca buku di antaranya yang bagus yaitu Kitab Tauhid III tulisannya Syaikh Fauzan bin Al-Fauzan yang diterbitkan oleh penerbit Darul Haq.</p>
<p>Demikianlah sedikit catatan mengenai peringatan Maulid Nabi Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wa sallam semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk memberi peringatan mengenai bid&#8217;ahnya peringatan Nabi Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wa sallam kepada saudara antum untuk meninggalkannya yang mungkin begitu &#8216;bersemangat sekali&#8217; dalam menyongsong/mensikapi ritual ini dengan cara yang hikmah, lemah-lembut tentunya.</p>
<p>Dan berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=85&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/hukum-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengurusi Jenazah &#8211; 4</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-4/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:25:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-4/</guid>
		<description><![CDATA[Anjuran tersebut sebagaimana diketahui dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Amr dan Ibnu Hazm secara marfu’: “Tiadalah seorang mukmin yang menghibur saudaranya yang tertimpa musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaian kemuliaan untuknya pada hari kiamat.” (Hadits riwayat Ibnu Majah). Masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang semakna dengan hadits diatas. Adapun do’a yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=84&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Anjuran tersebut sebagaimana diketahui dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Amr dan Ibnu Hazm secara marfu’: <em>“Tiadalah seorang mukmin yang menghibur saudaranya yang tertimpa musibah kecuali Allah akan memakaikan pakaian kemuliaan untuknya pada hari kiamat.” </em>(Hadits riwayat Ibnu Majah).<br />
<span id="more-84"></span>Masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang semakna dengan hadits diatas.</p>
<p>Adapun do’a yang dibaca ketika mengadakan takziyah, yakni:</p>
<p><em>“Semoga Allah menambah pahala bagimu dan menghiburmu dengan (hal-hal) yang baik, serta mengampuni dosa-dosa keluargamu yang wafat.” </em></p>
<p>Sering didapati pada masyarakat sekarang ini, suatu takziyah dibuat sebagaimana orang yang mengadakan pesta, ed), bahkan mengumumkannya ke mana-mana. Tidaklah tepat memberlakukan suatu takziyah secara demikian. Namun alangkah baiknya apabila justru membantu keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, seperti yang dicontohkan Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><em>“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang pada mereka apa yang menyibukkan mereka.” </em>(Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi dan mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).</p>
<p>Dilain pihak, terkadang justru pihak keluarga jenazah sendirilah yang menyediakan tempat atau mengadakan acara dengan mengundang banyak orang, kenduri, serta membayar orang untuk membacakan Al-Qur’an. Acara-acara semacam itu jelas merupakan perbuatan haram dan bid’ah (karena Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberikan contoh adanya perayaan seperti itu, ed), sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad yang diperolehnya dari Jabir bin Abdullah :</p>
<p><em>“Berkumpul pada keluaraga jenazah dan mengadakan kenduri setelah jenazah dikuburkan kami anggap sebagai ratapan atau meratapi (nihayah) jenazah.”</em> (Hadits riwayat Ahmad dengan sanad yang tsiqat atau terpercaya).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Berkumpulnya orang-orang pada acara kenduri di tempat keluarga yang kena musibah kematian, serta membacakan Al-Qur’an dan menghadiahkannya pada jenazah adalah merupakan perbuatan yang tidak pernah ada sejak jaman shahabat Nabi (salaf). Sekian banyak para ulama membenci perbuatan-perbuatan tersebut.”</p>
<p>Imam Ath-Thurthusi berkata:”Telah sepakat para ulama bahwa berkumpul (atau mengadakan acara kenduri) pada keluarga yang tengah dilanda musibah kematian adalah perbuatan terlarang. Hal itu merupakan perbuatan bid’ah yang mungkar, karena tidak ada satu keterangan atau dalil pun yang menyebutkannya. Demikian pula peringatan hari-hari setelahnya, yakni hari kedua, ketiga, keempat, ketujuh, ketigapuluh, kesatu tahun dan seterusnya, semua itu adalah bid’ah yang merupakan bencana bagi kemurnian ajaran agama.</p>
<p><strong>ZIARAH KUBUR</strong></p>
<p>Khusus bagi laki-laki, sunnah hukumnya melakukan ziarah kubur dengan maksud untuk mengambil hikmah pelajaran (ibrah), mendo’akan ampunan bagi yang telah wafat, sebagaimana sabda Nabi shalalahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><em>“Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur, sekarang ziarahilah”.</em> (Hadits riwayat Muslim dan Tirmidzi). Di dalam riwayat tirmidzi terdapat tambahan lafal “karena hal itu akan mengingatkan akhirat”.</p>
<p>Tidak pula diperkenankan melakukan ziarah kubur, apabila ziarah tersebut dilakukan sebagai ziarah khusus atau melakukan kunjungan semata-mata hanya ingin berziarah ke tempat itu.</p>
<p>Ziarah kubur di sunnahkan dengan tiga syarat :</p>
<p><strong>Pertama,</strong> yang berziarah adalah kaum lelaki, karena Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang melakukan ziarah kubur.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> tidak melakukannya sebagai perjalanan atau ziarah khusus, sebagaimana sabda Nabi shalalahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><em>“Jangan eratkan pelana (untuk melakukan perjalanan jauh atau ziarah) kecuali untuk menuju tiga masjid.”</em> (Hadits riwayat Bukhari dan ahli Sunan).</p>
<p><em>Ketiga,</em> dilakukan dengan maksud mengambil ibrah, nasehat dan mendo’akan orang-orang yang telah wafat.</p>
<p>Namun bila tujuan ziarah itu untuk meminta berkah (tabarruk) pada kuburan, merusak kuburan, meminta kepada orang yang telah mati agar memberikan sesuatu atau melepaskannya dari mara bahaya, maka ziarah semacam ini adalah ziarah bidiyyah syirkiyyah (yakni perbuatan sesat yang dapat menyebabkan kemusyrikan, ed).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Timiyah rahimahullah berkata :”Ziarah kubur ada dua, yakni ziarah yang syar’iyah dan ziarah yang bid’iyyah. Ziarah syar’iyah adalah ziarah yang bertujuan untuk mengucapkan salam (mendo’akan keselamatan) bagi jenazah dan sebagaimana halnya tujuan menshalatkan jenazah. Ziarah ini dilakukan dengan tidak memaksakan diri dan tidak bermaksud untuk mengagungkan kuburan. Adapun ziarah bid’iyyah adalah ziarah yang bertujuan untuk meminta sesuatu dari penghuni kubur agar memberi apa yang dibutuhkannya. Perbuatan meminta pada kuburan atau penghuni kubur merupakan syirik besar. Tujuan lain dari ziarah bid’iyyah ini adalah untuk berdo’a di kuburan, seakan-akan kuburan merupakan tempat yang makbul untuk berdo’a. Ziarah seperti ini adalah perbuatan bid’ah mungkarah (yakni perbuatan mungkar yang jelek dan dibenci, ed) yang dapat mengantar atau menjadi perantara (washilah) kepada kesyirikan. Dan ziarah demikian tidak pernah dianjurkan dan dicontohkan Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah pula dianggap sebagai amal perbuatan baik oleh seorang pun dari para Salaful Ummah (yakni para shahabat Nabi yang langsung mendapat didikan agama dari beliau, ed) dan juga oleh para Imam.</p>
<p>Wallahua’lam.</p>
<p><em>Washalallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alihi wa shahbihi.</em></p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info" /><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com" /></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=84&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengurusi Jenazah &#8211; 3</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-3/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:17:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-3/</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abi Hurairoh radhiallahu &#8221;anhu berkata, Rasulullah shalallahu &#8221;alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang menyaksikan (berada di tempat) jenazah hingga ia ikut menshalatkannya, maka dia memperoleh pahala satu qirath. Adapun barangsiapa yang menyaksikan (berada di tempat jenazah) hingga mayat tersebut dikubur, maka dia memperoleh pahala dua qirath. Ditanyakan pada beliau apakah dua qirath itu? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=83&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dari Abi Hurairoh radhiallahu &#8221;anhu berkata, Rasulullah shalallahu &#8221;alaihi wa sallam bersabda : <em>Barangsiapa yang menyaksikan (berada di tempat) jenazah hingga ia ikut menshalatkannya, maka dia memperoleh pahala satu qirath. Adapun barangsiapa yang menyaksikan (berada di tempat jenazah) hingga mayat tersebut dikubur, maka dia memperoleh pahala dua qirath. Ditanyakan pada beliau apakah dua qirath itu? Beliau menjawab: seperti dua gunung besar.</em> (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).<br />
<span id="more-83"></span>Menshalatkan jenazah hukumnya fardhu kifayah, yakni apabila telah ada sebagian orang yang menshalatkan, maka orang lain yang tidak ikut mengerjakan telah terlepas dari kewajiban. Hal itu bukan lagi merupakan sesuatu yang wajib baginya, namun lebih baik apabila dia mau ikut mengerjakannya (sunnah). Akan tetapi apabila tak seorangpun dari orang yang mengetahui kematian tersebut menshalatkan jenazah, maka seluruhnya menanggung dosa.</p>
<p>Beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai syarat syahnya pelaksanaan shalat jenazah, yakni memasang niat dalam hati bahwa ia hendak melaksanakan shalat jenazah, menghadap kiblat, menutup aurat yang melaksanakan shalat maupun yang dishalati dalam keadaan suci, jenazah telah berada di tempat tersebut, yang menshalatkan jenazah adalah orang yang beragama Islam yang telah baligh dan berakal atau orang telah memenuhi syarat melaksanakannya (mukallaf).</p>
<p>Adapun yang termasuk rukun dalam shalat jenazah adalah dilakukan dengan berdiri menghadap jenazah, mengumandangkan takbir sebanyak empat kali, membaca surat Al-Fatihah, mengucapkan shalawat untuk Nabi shalallahu &#8221;alaihi wa sallam, berdo&#8221;a untuk jenazah, melaksanakan dengan tertib sesuai dengan urut-urutan yang telah ditentukan, mengucapkan salam sebagi penutup shalat.</p>
<p>Hal-hal yang di-sunnah-kan adalah setiap kali mengucapkan takbir disertai dengan mengangkat kedua tangan, membaca ta&#8221;awudz (<em>a&#8221;udzu billahi minasy syaithanir rajim</em>) sebelum membaca surah Al-Qur&#8221;an, berdo&#8221;a untuk dirinya sendiri (orang yang menyalatkan) dan untuk seluruh kaum muslimin, berhenti atau diam sejenak setelah takbir yang ke-empat sebelum mengucapkan salam, posisi tangan ketika bersedekap setelah takbir adalah tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkannya di dada, menoleh ke kanan ketika salam, tidak mengeluarkan suara ketika membaca (<em>sirr</em>).</p>
<p>Apabila jenazah yang dishalatkan itu laki-laki, posisi imam atau orang yang shalat sendirian persis tepat di dada jenazah.1) Adapun jika jenazah wanita, posisi yang menshalatkan (imam atau orang yang shalat sendirian) tepat berada di tengah jenazah.</p>
<p>Jumlah shaf sebaiknya diatur dalam tiga shaf.</p>
<p>Selanjutnya mengumandangkan takbir (yakni takbir pertama, ed). Setelah mengucapkan takbir langsung membaca ta&#8221;awudz dan basmalah, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-fatihah. Tidak perlu membaca do&#8221;a iftitah, (sebagaimana dilakukan pada shalat-shalat yang lain, ed).</p>
<p>Pada takbir kedua, membaca shalawat untuk Nabi shalallahu &#8221;alaihi wa sallam, sebagaimana dyang dibaca ketika duduk tahiyat dalam shalat, (yakni <em>allahuma shalli&#8221;ala muhammad wa &#8221;ala ali muhammad kama shallaita &#8221;ala ibrahaim wa &#8221;ala ali ibrahim innaka hamidum majid</em>, ed).</p>
<p>Pada takbir ketiga berdo&#8221;a untuk jenazah, dengan do&#8221;&#8221;a yang telah dicontohkan (ma&#8221;tsur), yakni antara lain :<br />
<em>Allahumaghfirli hayyinaa, wa mayyitinaa, wa syahidana, wa ghaaibinaa, wa shoghiirinaa, wa kabiirinaa, wa dzakarinaa, wa untsaanaa. Innaka ta&#8221;lamu manqolibinaa, wa mats-waanaa wa anta &#8221;ala kulli syain qodiir. Allahuma man ahyaitahu minna fa ahyihi &#8221;ala islami was sunnati, wa man tawaffaitahu minna fatawaffahu &#8221;alaihima, Allohummaghfirlahu warhamhu wa &#8221;afihi, wa fuanhu, wa akrim nuzulahu wa wasi&#8221; mudkholahu, waghsilhu bilmai was salji wa barodi wa naqqihi minadz dzunubi wal khothoya kama yunaqqots tsaubu abyaddhu minad danas, wa abdilhui daro khoira min daa rihi wa zaujaa khoiram min zaujih, wa adkhilhul jannah wa a&#8221;idzhu min &#8221;adzaabil qobri wa &#8221;adzaabin naar waf sakh lahu fi qobrihi wa nawwir lahu fii hi.</em></p>
<p>Artinya : <em>Ya Allah, ampunilah kami, baik yang masih hidup maupun yang telah mati, yang hadir di sini maupun yang tidak hadir, yang kecil maupun yang besar, yang laki-laki maupun yang wanita. Engkau Maha Tahu tempat kami dan tempat istirahat kami. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, barang siapa yang Engkau hidupkan diantara kami maka hidupkanlah di atas Islam dan sunnah (ahli sunnah, pent). Barang siapa yang Engkau matikan diantara kami maka matikanlah di atas Islam dan sunnah. Ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, ma&#8221;afkanlah dia, baguskanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, mandikanlah ia dengan air, salju dan embun, bersihkanlah ia dari dosa dan kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Jadikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya, pasangan yang lebih baik dari psangannya, masukkanlah ia ke dalam sorga dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah ia dalam kuburnya dan berilah ia cahaya didalamnya.</em></p>
<p>Do&#8221;a tersebut di atas khusus untuk kata ganti orang laki-laki atau untuk jenazah laki-laki. Oleh karena itu, apabila jenazahnya perempuan, maka kata ganti tersebut diganti dengan kata ganti orang ketiga (dhamir muannats), sehingga menjadi <em>&#8221;allahumaghfirlaha warhamha</em> dan seterusnya.</p>
<p>Adapun jika jenazah tersebut anak kecil maka bunyi do&#8221;anya adalah:<br />
<em> Allahumaj &#8221;alhu dzukhro liwaalidaihi wa farotho wa ajroo wa syafii&#8221;aa mujaa baa. Allahuma tsaqqil bihi mawaa ziinahumaa wa a&#8221;dzimbihi ujuurohumaa. Walkhiqhu bishoolihi tsalafil mu&#8221;miniina wa aj&#8221;alhu fii kafaa lati ibroohiima wa qihi birohmatika &#8221;adzabal jahiimi.</em></p>
<p>Artinya: <em>Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan (tabungan amal) bagi kedua orang tuanya, sebagai bunga harta, sebagi pahala, sebagai pemberi syafa&#8221;at yang diterima. Ya Allah, beratkanlah dengannya timbangan kedua orangtuanya, besarkanlah dengannya pahalakedua orangtuanya. Gabungkanlah ia bersama pendahulu kaum mukminin yang shaleh. Jadikanlah ia dalam tanggungan Ibrahim, serta peliharalah ia dengan rahmat-Mu dari azab jahannam.</em></p>
<p>Setelah membaca do&#8221;a tersebut, lalu takbir keempat dan diam sejenak, kemudian salam ke arah kanan.(Adapun salam ke arah kiri boleh juga dilakukan, akan tetapi tidak melakukannyapun tidak mengapa, pent).</p>
<p>Apabila ada diantara orang yang ingin ikut menshalatkan namun terlambat dan tidak sempat mengikuti sebagian shalat tersebut, hendaklah ia tetap langsung bergabung dengan imam (jama&#8221;ah). Setelah imam menyelesaikan shalat, maka hendaknya ia menyempurnakan bagian-bagian shalat yang belum dikerjakannya.</p>
<p>Bila dikhawatirkan jenazah segera dibawa ke kubur, hendaknyalah orang yang terlambat tersebut menyingkat atau memendekkan jarak antara takbir yang satu dengan yang lain, kemudian salam. Sedang bagi orang yang tidak sempat menshalatkan jenazah sebelum dikuburkan, dibolehkan menshalatkannya dikuburnya.</p>
<p>Adapun bagi orang yang tidak berada di tempat jenazah diurus (atau bertempat tinggal jauh dari tempat jenazah, ed). namun ia mengetahui musibah kematian tersebut, maka ia dapat melakukan shalat ghaib dengan niat menshalatkan jenazah.</p>
<p>Selain orang dewasa dan anak-anak, sebgaimana yang telah dijelaskan di atas, yang juga wajib dishalatkan adalah janin dari seorang wanita yang keguguran, apabila janin tersebut telah berusia empat bulan atau lebih.</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=83&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengurusi Jenazah &#8211; 2</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-2/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kain kafan yang memenuhi syarat (wajib) adalah yang menutup seluruh jasad jenazah. Kain kafan dianjurkan yang berwarna putih bersih dan baru. Namun demikian bisa pula yang berwarna putih setelah dicuci bersih. Bagi jenazah laki-laki dikafani dengan tiga lapis kain, sedangkan jenazah wanita dikafani dengan sarung, kerudung, baju panjang(qamihs) dan kemudian dibalut dengaan dua lembar kain. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=82&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kain kafan yang memenuhi syarat (wajib) adalah yang menutup seluruh jasad jenazah. Kain kafan dianjurkan yang berwarna putih bersih dan baru. Namun demikian bisa pula yang berwarna putih setelah dicuci bersih.<br />
<span id="more-82"></span>Bagi jenazah laki-laki dikafani dengan tiga lapis kain, sedangkan jenazah wanita dikafani dengan sarung, kerudung, baju panjang(qamihs) dan kemudian dibalut dengaan dua lembar kain. Adapun jika jenazah tersebut anak kecil laki-laki, dikafani dengan satu atau tiga lapis kain. Sedang untuk anak perempuan dikafani dengan kain panjang (qamish), kemudian dibalut dengan dua lapis kain.</p>
<p>Alangkah baiknya bila kain kafan diperciki dengan air ramuan bunga mawar atau wewangian lainnya, kemudian diasapi dengan kayu gaharu atau sesuatu yang dapat membuat kain kafan menjadi harum.</p>
<p><strong>Cara mengkafani jenazah laki-laki</strong></p>
<p>Pertama-tama dilapisi tiga lapis kain dibentangkan kemudian-dengan aurat yang tetap tertutup-jenazah diletakkan ditengah-tengah kain tersebut dengan posisi terlentang. Setelah itu belahan pantat ditutup dengan kapas yang telah diberi wewangian. Kemudian kapas tersebut diikat denga potongan kain agar tidak jatuh dan terlepas. Selanjutnya kapas wangi tersebut juga diletakkan pada mata, hidung, mulut, telinga dan pada anggota-anggota sujud jenazah; kening, hidung, lutut, dan kedua ujung kaki. Demikian pula pada lipatan-lipatan tubuh seperti; ketiak, dua lipatan pada bagian belakang lutut, serta pusar, kepala jenazah dan sekitar kafan diberi wewangian kapas yang serupa.</p>
<p>Setelah selesai memberikan kapas pada bagian-bagian jasad jenazah, lembar pertama dilipat. Adapun sisi yang dilipat adalah sisi kain sebelah kiri jenazah, sehigga menutup seluruh jasad jenasah. Setelah itu sisi kain sebelah kanan jenazah dilipat menimpa sisi kain sebelah kiri. Demikian seterusnya hingga pada lembar kedua dan ketiga.</p>
<p>Perlu diperhatikan, kain sebelah kepala hendaknyalah dilebihkan, demikan kafan dibagian kaki. Hanya saja lebihan kain dibagian kepala lebih panjang dari pada bagian kaki.</p>
<p>Setelah bagian jasad jenazah terbungkus, lalu ketiga lapis ujung bagian kepala dikumpulkan menjadi satu dan diikat persis diatas wajah jenazah. Demikian pula ujung kafan bagian kaki dikumpulkan dan diikaat persis diatas jari kaki. Setelah iu, bagian tubuh jenazah juga diikat agar kafan tidak terlepas. Namun ketika berada di liang lahat, ikatan-ikatan tersebut dibuka kembali.</p>
<p><strong>Cara mengkafani jenazah wanita</strong></p>
<p>Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa jenazah wanita dikafani dengan lima lapisan, yakni memakai sarung, baju panjang (qamish), dan kerudung, kemudian dibalut dua lapis kain. (Adapun cara membalutnya sama dengan cara membalutnya jenazah laki-laki, ed).</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=82&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengurusi Jenazah &#8211; 1</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-1/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-1/</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I. Pesan Nabi Agar Bersiap Menyambut Mati Kita dianjurkan untuk banyak-banyak mengingat mati dan bersiap menyambutnya, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ï¿½alaihi wassalam: ï¿½Banyak-banyaklah mengingat ï¿½Sang Pemutus Kelezatanï¿½, yakni maut .ï¿½(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah, derajat shahih sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hibban, hakim, dan yang lainnya) Allah subhanahu wa taï¿½ala telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=81&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Bagian I. Pesan Nabi Agar Bersiap Menyambut Mati</strong></p>
<p>Kita dianjurkan untuk banyak-banyak mengingat mati dan bersiap menyambutnya, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ï¿½alaihi wassalam: <em>ï¿½Banyak-banyaklah mengingat ï¿½Sang Pemutus Kelezatanï¿½, yakni maut .ï¿½</em>(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah, derajat shahih sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hibban, hakim, dan yang lainnya) <span id="more-81"></span>Allah subhanahu wa taï¿½ala telah menurunkan penyakit, namun Allah juga telah menyediakan obatnya. Oleh karena itu meskipun penyakit yang diderita oleh seseorang bisa jadi akan mendatangkan maut, namun diperkenankan berobat dengan hal-hal yang cara pengobatan dan bahan obatnya mubah hukum pemakaiannya. Tidak diperkenankan berobat dengan hal-hal yang diharamkan baik berupa makanan atau yang lainnya seperti khamr (minuman keras) dan segala sesuatu yang najis.</p>
<p>Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam kitab Shahih, dari Ibnu Masï¿½ud, bahwa Rasulullah shalallahu ï¿½alaihi wassalam bersabda,<br />
<em>ï¿½Sesungguhnya Allah tidak menjadikan yang haram (sebagai obat bagi) ksesembuhan (penyakit yang diderita) umatku.ï¿½</em>(HR.Bukhari)</p>
<p>Demikian pula kita tidak boleh berobat dengan hal-hal yang dapat merusak akidah seperti sihir, menyembilah dan mengorbankan sesuatu bukan untuk Allah atau yang sering dikatakan sebagai tumbal, mendatangi atau meminta pertolongan penyembuahan kepada dukun dan para normal.</p>
<p>Seorang yang sakit wajib baginya segera bertaubat. Sebenarnya masalah bertaubat tidaklah hanya dilakukan ketika dalam keadaan sakit, akan tetapi wajib melakukannya dalam segala keadaan, tentunya lebih-lebih jika dalam keadaan sakit.</p>
<p>Seorang yang sakit hendaklah berwasiat tentang segala sesuatu yang menyangkut hak-hak orang lain. Adapun wasiat-wasiat tersebut mungkin berupa hutang-piutang, titipan (pesan atau sesuatu yang diamanahkan), hingga masing-masing pihak menerima kembali apa yang menjadi hak-haknya. Demikian pula dengan wasiat yang berhubungan dengan hak- anak-anaknya yang masih kecil agar diperhatikan.</p>
<p>Dianjurkan membisikkan (mental-qin) kalimat lailahailallah di telinga orang yang tengah mengalami sakratul maut, sebagaimana Rasulullah shalallahu ï¿½alaihi wassalam :<br />
<em>ï¿½ Bisikkan kepada orang yang akan mati di antara kalian kalimat lailahailallahï¿½</em>(hadist riwayat muslim)</p>
<p>Demikian pula dianjurkan menghadapkan orang yang tengah sakratulmaut ke arah kiblat. Apabila ia telah menghembuskan nafas terahir dianjurkan memejamkan kedua matanya dan menutup jasadnya dengan kain. Jika tidak ada sesuatu yang menghalangi, segeralah menyiapkan segala sesuatu yang berkenan dengan proses pengurusan jenazahnya.</p>
<p>Perkara yang harus segera dilaksanakan adalah membayar hutang-hutang jenasah dan menunaikan wasiatï¿½wasiat, sebagaimana sabda rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam.</p>
<p><em>Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutang- hutangnya hingga hutan tersebut dilunasi </em> (hadist riwayat ahmad dan di ï¿½hasankan sanad-nya oleh tirmidzi)</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=81&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/mengurusi-jenazah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shalawat Muadzin &amp; Rambut Cepak</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalawat-muadzin-rambut-cepak-2/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalawat-muadzin-rambut-cepak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 07:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalawat-muadzin-rambut-cepak-2/</guid>
		<description><![CDATA[Soal : Perlukah muadzin membaca shalawat setelah dia adzan ? jawab : Rasulullah shalallahu ï¿½alaihi wa sallam bersabda, ï¿½Jika kamu mendengar orang adzan maka katakanlah seperti apa yang dikatakannya kemudian bershalawatlah kepadaku.ï¿½(H.R. Muslim) Syaikh ï¿½Ali Hasan ï¿½Ali ï¿½Abdul Hamid Al-Halabi Al-ï¿½Atsary (murid dari Syaikh Al-Albaani rahimahullahu Taï¿½ala) berkomentar tentang hadits di atas dalam kitabnya ï¿½Ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=80&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Soal :</strong><br />
Perlukah muadzin membaca shalawat setelah dia adzan ?  <span id="more-80"></span><strong>jawab :</strong><br />
Rasulullah shalallahu ï¿½alaihi wa sallam bersabda,<br />
<em>ï¿½Jika kamu mendengar orang adzan maka katakanlah seperti apa yang dikatakannya kemudian bershalawatlah kepadaku.ï¿½</em>(H.R. Muslim)</p>
<p>Syaikh ï¿½Ali Hasan ï¿½Ali ï¿½Abdul Hamid Al-Halabi Al-ï¿½Atsary (murid dari Syaikh Al-Albaani rahimahullahu Taï¿½ala) berkomentar tentang hadits di atas dalam kitabnya ï¿½Ilmu Ushul Bidaï¿½, ï¿½Mereka (pelaku bidï¿½ah, pen) menganggap hadits tersebut sebagai perintah membaca shalawat setelah selesai adzan, dan beliau shalallahu ï¿½alaihi wa sallam memintanya untuk mengeraskan suaranya, sehingga hadits ini dijadikan dalil disyariï¿½atkannya bershalawat dengan suara keras. Mereka mengarahkan arti perintah bershalawat kepada orang adzan dengan alasan bahwa pembicaraan hadits untuk umum kepada semua kaum muslimin (termasuk orang yang melakukan adzan).ï¿½</p>
<p>Syaikh melanjutkan, ï¿½Penakwilan tersebut di atas adalah disebabkan kebodohan tentang gaya bahasa, sebab permulaan hadits tidak mencakup perintah kepada muadzin (orang yang beradzan), dan akhir hadits sesuai dengan awalnya, sehingga tidak mencakup juga kepada muadzinï¿½Sebab redaksi, ï¿½Jika kamu mendengar adzanï¿½(sampai akhir hadits)ï¿½ menunjukkan kekhususan perintah membaca shalawat setelah adzan hanya kepada orang yang mendengar adzan.</p>
<p><strong>Soal: </strong></p>
<p>Kami menyaksikan beberapa kaum muslimin mencukur sebagian rambut mereka atau rambut anak-anak mereka, yaitu rambut di atas telinga sampai pangkal rambut di dekat pelipis. Masyarakat menyebutnya Ash-Shobir (pangkas cepak). Mereka mengatakan model seperti ini untuk menyelisihi orang yahudi. Apakah perbuatan seperti ini dibenarkan?</p>
<p><strong>Jawab: </strong><br />
Setiap muslim wajib bertanya kepada ulama sebelum ia berbuat sesuatu. Ia tidak boleh nmenentukan baik-buruknya sesuatu sebelum bertanya, seperti mengatakan bahwa perbuatan ini untuk menyelisihi orang-orang yahudi yang memanjangkan rambut di kedua sisi kepala mereka ( memanjangkan kuncir). Rasulullah shalallahu &#8221;alaihi wasallam telah melarang Al-Qazaï¿½, yaitu mencukur sebagian rambut dan mencukur sebagian yang lainnya sebagaimana tersebut dalam beberapa hadist. Diantaranya hadist Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah melihat seorang anak yang dicukur sebagaian rambutnya dan dibiarkan sebagian yang lainnya. Beliau melarang perbuatan mereka dengan bersabda,ï¿½cukurlah seluruhnya atau biarkan seluruhnyaï¿½(HR.Ahmad.)</p>
<p>Telah terjadi perbedaan pendapat tentang makna Al-Qazaï¿½. Makna yang tersebut di atas merupakan pemahaman perawi hadist tersebut. Pemahamannya lebih didahulukan dari pemahaman yang lain. Sebagian ulama menafsirkannya dengan mencukur rambut kepala di bagian-bagian tertentu secara acak.</p>
<p>Imam Nawawi memilih makna yang lebih umum, yaitu mencukur sebagian dan meniggalkan sebagian yang lain bagaimanapun bentuknya. Imam ibnul Qoyyim berkata,ï¿½syaikh kami ï¿½ yaitu syaikhul Islam ibnu Taimiyah , semoga rahmat Allah tercurah kepadanya ï¿½ berkata, ï¿½larangan ini adalah salah satu bentuk kecintaan Allah dan rasulnya kepada keadilan, Allah memerintahkan untuk berlaku adil hingga tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Allah melarang mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian yang lainnya karena perbuatan itu adalah bentuk aniaya terhadap kepala, yaitu sebagian di buka tanpa rambut dan sebagian lainnya tertutup. Sama halnya dilarang duduk di antara cahaya matahari dan bayangan tertentu, sebab perbuatan seperti itu adalah bentuk aniaya terhadap tubuh.demikian pula larangan untuk mengenakan sebelah sandal ketika berjalan. Hendaknya dipakai keduanya atau bertelanjang kaki.</p>
<p>Al-Qazaï¿½ ada 4 macam. Yaitu:</p>
<p><strong>1.</strong> Mencukur rambut kepala pada bagian-bagian tertentu secara acak diambil dari perkataan ï¿½gumpalan awan telah teracak-acakï¿½, yaitu terpisah-pisah di sana-sini.</p>
<p><strong>2.</strong> Mencukur bagian tengah kepala dan membiarkan bagian pingginya, seperti yang dilakukakan para kaster yaitu penjaga gereja.</p>
<p><strong>3.</strong> Mencukur kedua belah sisi kepala dan membiarkan bagian tengahnya, seperti yang dilkukan para gembel dan orang pasaran.</p>
<p><strong>4.</strong> Mencukur bagian depan dan membiarkan bagian belakang.</p>
<p>Semua bentuk di atas termasuk Al-Qazaï¿½.<br />
Telah terjadi perbedaan pendapat tentang illat (alasan) pelarangannya. Ada yang mengatakan karena memburukkan rupa dan penampilan. Ada yang mengatakan termasuk model syaitan. Ada yangmengatakan termasuk model yahudi.(silakan melihat syarh muslim ï¿½XIV:327 dan ï¿½fathul Bariï¿½ X:365). Akhir-akhir ini banyak pemuda yang meniru gaya rambut anak-anak muda dari barat Mereka memendekkan rambut bagian depan dan memanjangkan rambut belakang sehingga terurai di tengkuknya, seperti ekor domba. Sebagian lian memanjangkan bagian depannya dan mencukur bagian belakang. Ini adalah akibat dadri lemahnya iman dan rendahnya kepribadian. (Abu abdurrahman)</p>
<p><strong>Dikutip dari :</strong><br />
*BUNGA RAMPAI FATWA-FATWA SYARï¿½IYYAH JILID I<br />
Abul Hasan Musthafa bin Ismail As Sulaimi Al Mishri<br />
Halaman 20-21</p>
<p>*Dinukil dari buku ï¿½Membedah akar bidï¿½ahï¿½ alih bahasa oleh A.S. Zamakhsyari hal 20-21 penerbit Pustaka Al-Kautsar Jakarta, dengan beberapa penyuntingan</p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=80&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/shalawat-muadzin-rambut-cepak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Mani &amp; Minum Pil Haid</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/air-mani-minum-pil-haid/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/air-mani-minum-pil-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 07:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/air-mani-minum-pil-haid/</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Habis bersenggama aku bangun tidur, lalu pergi mandi dan sholat fajar. Bolehkah aku tidur kembali pada tempat dan selimut habis senggama ? Jawaban : Sesungguhnya air mani itu suci, tak dapat membuat orang, alas tidur menjadi najis. Aisyah (Istri Nabi ) berkata : Aku menggaruk garuk bekas air mani dari Nabi Shalallahu &#8221;Alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=79&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Pertanyaan : </strong>Habis bersenggama aku bangun tidur, lalu pergi mandi dan sholat fajar. Bolehkah aku tidur kembali pada tempat dan selimut habis senggama ? <span id="more-79"></span><strong>Jawaban : </strong><br />
Sesungguhnya air mani itu suci, tak dapat membuat orang, alas tidur menjadi najis. Aisyah (Istri Nabi ) berkata : Aku menggaruk garuk bekas air mani dari Nabi Shalallahu &#8221;Alaihi Wa sallam lalu beliau memakainya sholat. Akan tetapi hal ini berkenaan dengan air mani yang keluar dari seseorang yang sebelumnya telah bersuci dari kencingnya. Sedangkan bagi yang belum, maka keadaan air mani menjadi najis karena telah menyentuh tempat yang najis.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Apa hukum minum pil anti haid dibulan Ramadhan?</p>
<p><strong>Jawaban :</strong> Wanita yang menggunakan pil anti hamil selama tidak membahayakan menurut tim medis, tidaklah dilarang dengan syarat ada izin suaminya. Tetapi sepengetahuan saya, pil tersebut dapat membahayakan, sebab darah haid keluar secara alami. Jika yang alami ini tertahan pada saatnya, maka akan menimbulkan efek negatif pada tubuh. Begitu pula sangat riskan mengkonsumsi pelbagai pil sehingga timbul keraguan (karena darah keluar tak teratur, umpamanya) dalam shalat, bersenggama atau lainnya. Karena itu, saya tidak mengatakan haram, tetapi hal itu tidak pantas dilakukan. Menurutku, sebaiknya wanita harus menerima apa yang telah ditentukan Allah. Pada haji Wadaï¿½, Nabi Shalallahu &#8221;alaihi wasallam. Pernah manjumpai Ummul mukminin tengah menangis sehabis berihram ï¿½Umrahï¿½. Tegurnya : ï¿½Apakah dinda tengah keluar darah?ï¿½ Ya, ï¿½Jawabnya. Beliau berkata : ï¿½Itulah sesuatu yang ditentukan Allah bagi anak-anak perempuan Adamï¿½.</p>
<p>Juga wanita sebaiknya bersabar dan mengharapkan pahala Allah mana kala datang haid hingga harus meninggalkan shalat dan shaum. Sebab baginya masih terbuka pintu dzikir. Bertasih, bertahmid, bersedekah, berbuat baik dengan perkataan dan perbuatan adalah amalan terbaik buat dilakukan.</p>
<p><strong>(Sumber: 257 Tanya Jawab Fatwa-Fatwa Al-&#8221;Utsaimin; Hal. 27 dan 33)</strong><br />
<a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=79&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/air-mani-minum-pil-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cairan Rahim &amp; Jabat Tangan</title>
		<link>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/cairan-rahim-jabat-tangan/</link>
		<comments>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/cairan-rahim-jabat-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 06:12:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngajisalaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Atsary]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[As-Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Darus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[NgajiSalaf.Net]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafiyun]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy Online]]></category>
		<category><![CDATA[Salafyon]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Sunni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/cairan-rahim-jabat-tangan/</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Apakah cairan yang keluar dari rahim wanita itu suci atau tidak ? Jawaban : Telah diketahui pasti oleh para ulama bahwa apapun yang keluar dari kedua pintu adalah najis kecuali air mani. Atas dasar ini maka cairan yang keluar dari wanita adalah najis dan wajib berwudlu. Ini menurut kajian beberapa ulama. Tetapi bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=78&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Pertanyaan :</strong><br />
Apakah cairan yang keluar dari rahim wanita itu suci atau tidak ?<br />
<span id="more-78"></span><strong>Jawaban :</strong><br />
Telah diketahui pasti oleh para ulama bahwa apapun yang keluar dari kedua pintu adalah najis kecuali air mani. Atas dasar ini maka cairan yang keluar dari wanita adalah najis dan wajib berwudlu. Ini menurut kajian beberapa ulama. Tetapi bagi saya ada kesulitan karena sebagian wanita mengalami hal tersebut terus-menerus sehingga statusnya seperti orang beser, wajib wudlu ketika tiba waktu shalat. Berdasarkan kajianku bersama beberapa dokter terungkap bahwa jika cairan itu keluar dari saluran kencing, maka hukumnya wajib dibersihkan dan berwudlu. Sedangkan jika keluar dari saluran rahim, maka berlaku kewajiban wudlu, tetapi cairan itu suci tak perlu dibasuh.</p>
<p><strong>Pertanyaan :</strong> Kenapa islam mengharamkan wanita berjabat tangan dengan yang bukan muhrimnya dan batalkah wudhunya orang berjabat tangan dengan birahi ?</p>
<p><strong>Jawaban :</strong> Islam mengharamkan lelaki menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. Dan mengharamkan pula segala hal yang akan menimbulkan fitnah. Karena itu islam memerintahkan kita agar memejamkan/menundukkan pandangan agar terhindar dari fitnah. Adapun suami yang menyentuh istrinya, tidaklah batal wudhunya walau dengan penuh birahi kecuali jika sampai keluar madzi maka mesti harus wudlu kembali atau keluar mani maka harus mandi.</p>
<p><strong>(Sumber: 257 Tanya Jawab Fatwa-Fatwa Al-&#8217;Utsaimin; Hal. 19 dan 23)</strong><br />
<a href="http://www.mediamuslim.info"></a><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"></a></p>
<p><a href="http://arsipmoslem.wordpress.com"> </a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngajisalaf.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngajisalaf.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngajisalaf.wordpress.com&amp;blog=738247&amp;post=78&amp;subd=ngajisalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngajisalaf.wordpress.com/2007/07/12/cairan-rahim-jabat-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c18ed99566753af21c7fa9e360310ebe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ngajisalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
