Rangkuman Dasar Pengenalan Ilmu Hadits

MediaMuslim.Info – Hadits adalah pensyarah yang menjelaskan kemujmalan (keglobalan) Al-qur’an. Misalnya di dalam Al-qur’an ada perintah untuk mengerjakan sholat, akan tetapi di dalamnya tidak dijelaskan bagaimana cara mengerjakan sholat. Semua hukum-hukum yang berkaitan dengan sholat seperti waktu sholat, rukun-rukun sholat, gerakan-gerakan sholat, pembatal-pembatal sholat, dan hukum-hukum lainnya dapat kita temukan penjelasannya di dalam Hadits Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam.

Materi di dalam tulisan ini hanya memfokuskan pembahasan pada istilah-istilah dalam ilmu Hadits. Dengan mengetahui istilah-istilah tersebut semoga dapat membantu kaum muslimin yang belum mengetahui (awam) dalam ilmu Hadits memahami buku-buku karangan para ahlul ilm (ulama). Ilmu Hadits adalah ilmu yang sangat luas dan ilmiah. Oleh karena itu, tidak cukup dengan hanya mengetahui istilah-istilahnya, akan tetapi jika ingin mendalami ilmu ini, seorang tholabul ilm (penuntut ilmu agama) hendaknya membekali dengan ilmu-ilmu ushul terlebih dahulu, seperti bahasa arab (nahwu, shorof, dan balaghoh), Tauhid, Mustholahul Hadits, ushul tafsir, dan ushul fiqh.Semoga tulisan ringkas ini memotivasi kita semua untuk menekuni ilmu agama yang merupakan kewajiban bagi kaum muslimin. Sehingga kita tidak berbicara mengenai masalah agama ini dengan kebodohan, karena sering kali saya temukan berapa banyak orang-orang bodoh yang berbicara ngawur tentang permasalahan agama tanpa dilandasi dengan ilmu dan pemahaman yang benar. Orang-orang bodoh tersebut dengan sombongnya berpendapat begini dan begitu tentang agama serta menolak kebenaran yang datang dengan hujjah (argumentasi) kepada mereka. Ketahuilah bahwa agama ini diturunkan dengan wahyu dari Robbul ‘alamin Alloh Azza wa Jalla, dan kita beragama juga dilandasi dengan wahyu (Al-qur’an dan Sunnah), sehingga kita wajib mendahulukan wahyu dibandingkan dengan akal dalam membahas masalah-masalah keagamaan.

PENDAHULUAN

Pada awalnya Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam melarang para sahabat menuliskan Hadits, karena dikhawatirkan akan bercampur-baur penulisannya dengan Al-qur’an. Perintah untuk menuliskan Hadits yang pertama kali adalah oleh khalifah Umar bin abdul aziz. Beliau menulis surat kepada gubernurnya di Madinah yaitu Abu bakar bin Muhammad bin amr hazm al-alsory untuk membukukan Hadits. Sedangkan Ulama yang pertama kali mengumpulkan Hadits adalah Ar-robi bin sobiy dan Said bin abi arobah, akan tetapi pengumpulan Hadits tersebut masih acak (tercampur antara yang sohih dengan, dhoif, dan perkataan para sahabat.

Pada kurun ke-2 imam Malik menulis kitab Al-muwatho di Madinah, di Makkah Hadits dikumpulkan oleh Abu muhammad abdul malik bin ibnu juraiz, di Syam oleh imam Al-auza i, di Kuffah oleh Sufyan at-tsauri, di Basroh oleh Hammad bin salamah. Kemudian, pada awal abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab-kitab musnad (seperti musnad Na’im ibnu hammad). Dan pada pertengahan abad ke-3 hijriyah mulai dikarang kitab shohih Bukhori dan Muslim.

PEMBAHASAN

Ilmu Hadits:
Ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak.

Hadits:
Apa-apa yang disandarkan kepada Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, dan sifat (lahiriyah dan batiniyah).

Sanad:

Mata rantai perawi yang menghubungkannya ke matan.

Matan:
Perkataan-perkataan yang dinukil sampai ke akhir sanad.

PEMBAGIAN HADITS
Dilihat dari konsekuensi hukumnya:
1) Hadits Maqbul (diterima): terdiri dari Hadits sohih dan Hadits Hasan
2) Hadits Mardud (ditolak): yaitu Hadits dhoif

Penjelasan:

HADITS SOHIH:
Yaitu Hadits yang memenuhi 5 syarat berikut ini :

  • Sanadnya bersambung (telah mendengar/bertemu antara para perawi).
  • Melalui penukilan dari perawi-perawi yang adil. Perawi yang adil adalah perawi yang muslim, baligh (dapat memahami perkataan dan menjawab pertanyaan), berakal, terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan rusaknya kehormatan (contoh-contoh kefasikan dan rusaknya kehormatan adalah seperti melakukan kemaksiatan dan bid’ah, termasuk diantaranya merokok, mencukur jenggot, dan bermain musik).
  • Tsiqoh (yaitu hapalannya kuat).
  • Tidak ada syadz (syadz adalah seorang perawi yang tsiqoh menyelisihi perawi yang lebih tsiqoh darinya.
  • Tidak ada illat atau kecacatan dalam Hadits

Hukum Hadits sohih: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.

 

HADITS HASAN:
Yaitu Hadits yang apabila perawi-perawinya yang hanya sampai pada tingkatan soduq (tingkatannya berada dibawah tsiqoh).

 

Soduq: tingkat kesalahannya 50: 50 atau di bawah 60% tingkat ke tsiqoan-nya.

Soduq bisa terjadi pada seorang perawi atau keseluruhan perawi pada rantai sanad.

Para ulama dahulu meneliti tingkat ketsiqo-an seorang perawi adalah dengan memberikan ujian, yaitu disuruh membawakan 100 hadits berikut sanad-sanadnya. Jika sang perawi mampu menyebutkan lebih dari 60 hadits (60%) dengan benar maka sang perawi dianggap tsiqoh.

Hukum Hadits Hasan: dapat diamalkan dan dijadikan hujjah.

 

 

HADITS HASAN SHOHIH
Penyebutan istilah Hadits hasan shohih sering disebutkan oleh imam Thirmidzi. Hadits hasan shohih dapat dimaknai dengan 2 pengertian :

  • Imam Thirmidzi mengatakannya karena Hadits tersebut memiliki 2 rantai sanad/lebih. Sebagian sanad hasan dan sebagian lainnya shohih, maka jadilah dia Hadits hasan shohih.

  • Jika hanya ada 1 sanad, Hadits tersebut hasan menurut sebagian ulama dan shohih oleh ulama yang lainnya.

 

 

HADITS MUTTAFAQQUN ‘ALAIHI
Yaitu Hadits yang sepakat dikeluarkan oleh imam Bukhori dan imam Muslim pada kitab shohih mereka masing-masing.

TINGKATAN HADITS SHOHIH

 

  • Hadits muttafaqqun ‘alaihi

  • Hadits shohih yang dikeluarkan oleh imam Bukhori saja

  • Hadits shohih yang dikeluarkan oleh imam Muslim saja

  • Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhori dan Muslim, serta tidak dicantumkan pada kitab-kitab shohih mereka.

  • Hadits yang sesuai dengan syarat Bukhori

  • Hadits yang sesuai dengan syarat Muslim

  • Hadits yang tidak sesuai dengan syarat Bukhori dan Muslim. Syarat Bukhori dan Muslim: perawi-perawi yang dipakai adalah perawi-perawi Bukhori dan Muslim dalam shohih mereka.

 

HADIST DHOIF:
Hadits yang tidak memenuhi salah satu/lebih syarat Hadits shohih dan Hasan.
Hukum Hadits dhoif: tidak dapat diamalkan dan tidak boleh meriwayatkan Hadits dhoif kecuali dengan menyebutkan kedudukan Hadits tersebut.

12 comments so far

  1. michael on

    Ternyata hadist itu rumit dan membingungkan ,,,

  2. Sukria on

    Alhmdllh sdkt2 sy jd phm mana hadits sohih n mana hadis doif.
    Mdh2n kdpny bnyk lg tlsn2 tntng ilmu2 hadits..syukron

  3. Sukria on

    Boleh minta alamat emailny?
    supaya ana bs lgsg tny jawb..
    Syukron

  4. dhany on

    saya dhany…baru ingin belajar tentang isam…salah satunya tentang ilmu hadits..apakah ada referensi yang bisa mambantu saya memahami ilmu hadits??KALAU ADA E-book atau softwarem tapi kalo gak ada pdf pun boleh,terlebih lagi buku/kitab…syukron…tak ada kata terlambat untuk memulai…..bi iznillah

  5. pramudyo on

    kalo pengen mempelajari tentang ilmu islam kususnya tentang hadits,sebaiknya datang kepada para kyai di pesantren ataopun kepada para ustad.ilmu hadits ataupun ilmu tentang alqur’an tidak bisa hanya dipelajari dengan di baca sendiri.harus didampingi oleh para kyai ato ustadz.sekarang ini banyak faham faham yang menyimmpang karna pemahaman ynag dangkal tentang hadits maupun tafsir quran.buku2 tentang hadits yang bisa dijadikan sebagai refrensi antara lain.
    shahih bukhari- muslim.tentangfiqih dantara lain ihya’ ‘ulumuddin karya imam ghazali.dan masih banyak lagi, dan sebaiknya tanyakan langsung pada ulama ato kyai di pesantren.mengingat pesan alloh dalam al qur’an, bahwa “ulama itu adalah pewaris para nabi”.
    merekalah orang orang yang sangat takut pada alloh.

  6. Aisyah on

    jika ingin tau tenteng hadist.Tanya aja ke orang yang lebih apa itu hadist shohih or dhoif

  7. Faisal on

    Sayid Sabiq dalam bukunya Fiqh Sunnah menuliskan bahwa hadits bukhori mengenai “air dua kullah” adalah dho’if,mohon dijelaskan.

  8. Najwa on

    Saya mau nanya,tsiqah,tsiqaan,n soduq itu artinya apa sih? syukron atas jawabannya

  9. Muhajir on

    masyarakat Islam (mayoritas) masih primitif dengan ilmu al-hadits. tidak jarang yang menyamakan antara hadits, sunnah, khabar dll. hal ini selain karena tingkat pendidikan juga masih ada rasa risih atau menganggap rumit atau bahkan ada anggapan kurang perlu karena sudah ada orang lain (ulama, ustadz, teungku, buya). perspektif ini adalah malapetaka awal yang memungkinkan lentur dan lunturnya tingkat keimanan kita. so….
    harus ada keinginan serta menumbuhkembang suburkan pemahaman ttg hadits karena is adalah sumber kedua setelah Qur’an…..

  10. Narimo Insan P on

    Kitab-kitab hadis sangat banyak. Ada beberapa hadis yang oleh kitab hadis tertentu derajadnya sahih tetapi di kitab hadis lain di dhoifkan, atau sebaiknya. Bacalah referensi kitab-kitab generasi awal banyak-banyak, jangan hanya terjebak pada referensi yang muncul pada abad akhir2 ini.
    Kita mesti belajar dan menauladani sikap dan akhlaq para ulama/kiai pendahulu kita yang sangat arif dalam menyikapi hal ini, yang membolehkan melakukan amalan hadis yang dhoif (who knows? is it real dhoif?) kan ilmu dan pengumpulan hadis sebagai kitab baru muncul sekitar 200 tahun setelah wafatnya Rasulullah Sallallahu ‘alaiwi wasallam?.
    Jadi harus hati-hati, jangan sampai keyakinan atas derajad dhoifnya hadis menjadikan seseorang ingkar pada perkataan, perbuatan dan perilaku Rasulullah (ingkar sunnah). Bukankah ini justru akan mereduksi/mengkerdilkan sunnah Rasul?

  11. abay on

    Alhamdulillah sekarang saya semakin yakin kalau menuntut ilmu itu wajib hukumnya, tapi saya sering minder dengan keterbatasan pengethuan dan IQ yang saya miliki, saya takut sekali tidak bisa sampai menelusuri sekaligus mempelajari semua fan ilmu termasuk ilmu hadist,,,minta dukungan do’anya dari semuanya,,, nasalukal ijaabah,,,al-faatihah

  12. w.heri s. on

    mohon ijin mencopy artikel2nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: