Iman kepada hari akhir – 2

Kita mengimani setiap berita yang disebutkan dalam Al-Qu’an dan Sunnah yang berkenaan dengan hari akhir ini beserta segala peristiwanya yang mengerikan. Semoga Allah memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk menghadapinya.
Kita mengimani adanya syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bagi para ahli surga untuk memasukinya. Dan syafa’at ini khusu buat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kita mengimani adanya surga dan neraka.
Surga adalah tempat kebahagiaan yang hakiki, disediakan oleh Allah untuk kaum mu’minin yang muttaqin. Di dalamnya terdapat segala kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata. Belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbersit dalam hati manusia. Firman Allah:
Maka tiada seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu bermacam-macam ni’mat yang menyedapkan pandangan mata. Sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah:17).
Sedang neraka adalah tempat segala siksaan, disediakan Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir dan zhalim. Di dalamnya terdapat segala macam adzab dan siksaan yang tak terbayangkan. Firman Allah,
Sesungguhnya kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalin itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, diberilah mereka minum dengan air seperti besi yang mendidih. Yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat tinggal yang paling jelek. (al-Kahfi:29)
surga dan neraka ini telah ada sekarang dan keduanya kekal, tidak akan binasa selam-lamanya. Firman Allah,
dan barangsiapa beriman kepada Allah dan beramal shaleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah telah memberikan rizki yang baik kepadanya. (At-Thalaq:11).

Kita mengakui bahwa akan masuk surga orang-orang yang telah dinyatakan demikian dalam Al-Qu’an dan sunnah, dengan ditentukan pribadinya atau disebutkan sifatnya.
Adapun untuk pribadi mereka, seperti: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan selain mereka yang sudah ditentukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedang yang disebutkan sifatnya adalah orang yang beriman atau orang yang bertaqwa.
Kita pun mengakui bahwa akan masuk neraka orang yang telah dinyatakan demikian oleh Al-Qur’an dan sunnah dengan ditentukan pribadinya atau disebutkan sifanya.
Adapun yang ditentukan pribadinya seperti Abu Lahab, dan selain mereka, sedang yang disebut sifatnya ialah orang kafir. Atau muyrik yang melakukan syirik akbar, atau munafik.
Kita mengimani adanya fitnah kubur yaitu pertanyaan kepada orang yang telah mati di dalam kuburnya tentang siapa Tuannya, apa agamanya dan siapa Nabinya?,Allah akan meneguhkan ucapan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dalam kehidupan dunia dan akhirat.(Ibrahim 27).
Maka orang beriman akan menjawab :Rabbku Allah Nabiku Muhammad dan agamaku Islam.. adapun orang kafir dan orang yang munafik dia akan menjawab: “Aku tidak tahu aku telah mendengar orang mengatakan hal tersebut maka aku mengatakannya. (Bukhari, Ahmad).
Kita mengimani pula adanya kenikmatan bagi kaum mu’minin di alam kubur. Firman Allah,
Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):Selamat sejahtera bagimu, masuklah kamu ke dalam surga itu karena apa yang telah kamu kerjakan. (An-Nahl:32).
Dan kita mengimani adanya siksa kubur untuk orang-orang yang zhalim dan kafir. Firman Allah,
Alangkah dahsyatnya, seandainya kamu melihat ketika orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut. Sedang para malaikat memukul dengan tangannya :Keluaran Nyawamu!. Pada hari ini, kamu akan diberi balasan siksa kehinaan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya. (al-an’am:93).
Hadits-hadits yang berkenaan dengan hal ini pun banyak dan sudah dikenal. Maka wajiblah bagi orang yang mukmin untuk mengimani semua perkara-perkara yang ghaib ini yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an maupun sunnah; janganlah menolaknya berdasarkan apa yang disaksikannya di dunia. Sebab masalah-masalah akhirat tidak dapat dikiaskan dengan masalah-masalah dunia, dikarenakan adanya perbedaan mencolok di antara keduanya.
Hanya kepada Allah jua kita memohon pertolongan.

Rujukan
Aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah Ibnu ‘Utsimin

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: