Iman kepada Qadar Baik dan Buruk – 1

Kita juga mengimani qadar (takdir), yang baik maupun yang buruk; yaitu ketetapan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh makhluknya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijaksanaan-Nya. Iman kepada Qadar ada empat tingkatan:

– ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Tahu atas segala sesuatu, mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidak tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang diketahui-Nya.

– Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah Ta’ala talah mencatat I Lauh Mahfudz apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman-Nya,
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya itu semua tertulis dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al-Hajj:70).

– Masyi’ah
ialah mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, tiada suatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah maka tidak akan terjadi.

– Khalaqa
ialah mengimani bahwa Allah Ta’ala adalah pencipta segala sesuatu,
Allah menciptakan segala sesuatu dan memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nya lah kunci-kunci langit dan bumi (Az-Zumar:62-63)

keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah sendiri dan apa yang terjadi dari makhluk. Maka segala apa yang dilakukan makhluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah.
(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila di kehendaki Allah, Rab semesta alam. (At-Takwir: 28-29).
kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.(Al-Baqarah:253).
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. (Ash-Shaffat:96).
Akan tetapi dengan demikian kita pun mengimani bahwa Allah Ta’ala memberikan kepada makhluk kehendak dan kemampuan di dalam perbuatannya. Adapun dalilnya bahwa perbuatan makhluk dilakukan berdasarkan kehendak dan kemampuannya sendiri ialah
-firman Allah,
maka datangilah tempat-tempat bercocok tanammu itu sebagaimana kamu kehendaki (al-Baqarah 223).
Seandainya mereka menghendaki keberangkatan tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.. (At-Taubah:46).
Allah telah menetapkan bahwa apa yang telah di perbuat manusia, seperti mendatangi tempat bercocok tanam dan menyiapkan persiapan, adalah dengan kehendak dan keinginannya.
– adanya pengarah perintah dan larangan kepda manusia. Seandainya dia tidak diberi kehendak dan kemampuan, tentu pengarahan hal tersebut kepadanya adalah suatu pembebanan di luar kesanggupannya. Dan ini tidak sesuai dengan hikmah kebijaksanaan serta rahat Allah dan tidak seuai dengan kebenatan berita-Nya tersebut dalam firman-Nya,
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqarah: 286)
– Adanya pujian kepada orang yang berbuat baik dan celaan kepada orang yang berbuat jahat. Sekiranya perbuatan itu terjadi tidak dengan kemauan dan kehendak makhluk, niscaya pujian kepada orang orang yang berbuat baik adalah tindakan yang sia-sia dan penghukuman kepada orang yang berbuat jahat adalah tindakan yang zhalim. Padahal Allah Ta’ala tiadalah berbuat sesuatu yang sia-sia dan dhzlim.
– bahwa Allah telah mengutus para Rasul untuk supaya tidak ada alasan bgi manuasia untuk membantah Allah. Firman-Nya:
(kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembwa berita gembira dan pemberi peringatan, agar supay tidak ada alasan bagi manusia membntah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. (surah An-Nisa:165).
Andaikata perbuatan yang dilakukan menusia terjadi tidak dengan kehendak dan kemauannya, maka tidak akan ditolak alasan mereka meski telah diutus para Rasul.
– Setiap pelaku menyadari bahwa dia mengerjakan sesuatua atau tidak mengerjakannya, tanpa ada perasaan bahwa dia dipaksa. Seperti ketika berdiri dan duduk serta masuk dan keluar; adalah semata-mata dengan kemauannya sendiri. Dia tidak merasa bahwa ada orang lain yang memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Bahkan dia dapat membedakan dengan nyata antara melakukan sesuatu dengan kehendaknya sendiri dan melakukannya karena dipaksa orang lain. Syariat pun secara hukum, membedakan antara kedua masalah ini; maka tidak dikenai hukuman orang yang melakukan suatu larangan karena dipaksa.

Rujukan
Aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah Ibnu ‘Utsaimin

1 comment so far

  1. usup on

    Takdir…kalo di lihar dari posisi yang berbeda ia tidak dikatakan takdir.cth ya

    kalo seorang memandu dengan laju,lalu kecelekaan,dan dalam kecelakaan itu terlibat orang lain.adakah itu disebut takdir?bukan kah itu kecuaian?

    …ya udah jelas

    – Masyi’ah
    ialah mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, tiada suatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah maka tidak akan terjadi.

    segala sesuatu terjadi kerna kehendakNya Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: