Iman kepada Qadar Baik dan Buruk – 2

Kita berpandangan bahwa pelaku maksiat tidak boleh berdalih dengan takdir atas maksiat yang dia lakukannya. Karena dia berbuat maksiat dengan kemauannya sendiri tanpa dia mengetahui bahwa Allah telah mentaqdirkan perbuatan maksiat itu terhadap dirinya. Soalnya, tiada seorangpun yang mengetahui takdir Allah kecuali setelah terjadi apa yang ditaqdirkan-Nya itu. Firman-Nya,
dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakanya besok.. . (Luqman:34).
Kalau demikian, bagaimana bisa dibenarkan seorang pelaku maksiat berdalih dengan taqdir Allah, padahal dia sendiri tidak mengetahui takdir tersebut pada saat dia melakukan perbuatan maksiat. Dalih yang demikian ini telah ditolak oleh Allah dengan firman-Nya,
Orang-orang yang mempersekutukan (Allah) akan berkata: Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu apapun. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksa kami. Katakanlah :Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka dan kamu tiada lain hanyalah berdusta. (Al-An’am:148).
Kita dapat pula mengatakan kepada pelaku maksiat yang berdalih dengan takdir: ‘Mengapa anda tidak melakukan perbuatan ketaatan dengan memperkirakan sebagai sesuatu yang ditakdirkan? Karena tidak ada bedanya antara perbuatan ketaatan dan perbuatan maksiat; sama-sama anda tidak mengetahui mana yang ditakdirkan Allah, sebelum anda sendiri melakukan perbuatan tersebut.
Oleh karena itu, tatkala Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu para shahabat bahwa setiap orang telah ditentukan tempatnya di surga atau tempatnya dieraka, lalu mereka bertanya :Kalau demikian, tidakkah kita pasrah saja dan tidak perlu berusaha?. Beliaupun menjawab:
Tidak. Berusahalah. Karena masing-masing akan dimudahkan menurut apa yang telah ditaksirkan baginya. (Bukhari, Muslim).
Dapat kita katakan juga kepada pelku maksiat yang berdalih dengan takdir :kalau anda hendak bepergian ke Makkah, padahal untuk menuju ke sana ada dua jalan; anda telah diberitahu orang yang dapat dipercaya bahwa salah satu dari kedua jalan tersebut sulit dan mengerikan, sedang jalan yang kedua mudah dan aman; tentu anda akan memilih untuk melewati jalan yang kedua. tidak mungkin anda akan memilih jalan yang pertama dengan mengatakan hal tersebut telah ditakdirkan kepadaku. Kalaupun anda berbuat demikian maka orang-orang akan menganggap anda termasuk orang yang tidak waras.
Kita dapat pula mengatakan kepadanya:jika ditawarkan kepada anda dua jabatan salah satunya memberikan gaji yang lebih tinggi daripada yang lain, niscaya anda akan memilih untuk bekerja pada jabatan yang memberikan gaji yang lebih tinggi tersebut. Anda tidak akan memilih untuk bekerja pada jabatan yang gajinya lebih rendah. Maka bagaimana anda memilih untuk diri anda sendiri dalam masalah amalan akhirat apa yang terendah lalu anda berdalih dengan takdir?.
Serta kita dapat mengatakan kepadanya: apabila anda menderita suatu penyakit phisik, anda akan berusaha untuk berobat dengan pergi ke dokter. Anda pun mau untuk menelan obat yang pahit. Bahkan jika harus dilakukan operasi pada diri anda, maka anda akan tabah menahan rasa sakitnya. Akan tetapi mengapa anda tidak berbuat seperti itu terhadap penyakit hati anda yang berkenaan dengan perbuatan maksiat ?
Dan kita mengimani bahwa keburukan tidak dapat dinisbatkan kepada Allah Ta’ala, karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
Dan hanya kebaikan seluruhnya yang ada pada dua Tangan-Mu, sedang keburukan itu tidaklah dinisbatkan kepada-Mu (Muslim).
Dengan demikian, ketetapan Allah itu sendiri sama-sekali tidaklah suatu keburukan, karena ketetapan-Nya itu timbul dari sifat kasih sayang dan hikmah kebijaksanaan-Nya.
Akan tetapi keburukan itu terdapat dalam hal-hal yang telah ditetapkannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam doa qunut yang beliau ajarkan kepada Al-Hasan,
dan lindungilah diriku dari keburukan sesuatu yang telah Engkau tetapkan.. (tirmidzi, ahmad, abu dawud).
Di sini beliau menisbatkan keburukan itu kepada sesuatu yang ditetapkan oleh Allah.
Namun demikian, keburukan yang terdapat dalam hal-hal yang telah ditetapkan Allah sebenarnya bukanlah suatu keburukan murni dan mutlak sifatnya; tetapi hal tersebut adalah suatu keburukan yang terdapat pada tempatnya, dari satu sisi; sedang dari sisi lain adalah suatu kebaikan; atau hal tersebut adalah suatu keburukan pada tempatnya. Sedang pada tempat lain merupakan suatu kebaikajn.
Seperti kekeringan wabah dan kemiskinan dan perasaan takut yang termasuk jenis kerusakan yang terjadi adalah suatu keburukan. Akan tetapi hal tersebut pada tempat lain merupakan suatu kebaikan. Firman Allah Ta’ala,
telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan-tangn manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka itu agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum:41).
Begitu pula, hukum potong tangan bagi pencuri dan hukum rajam bagi pezina adalah sesuatu yang buruk bagi pencuri karena dia harus dipotong tangannya dan bagi pezina karena dia harus di rajam. Akan tetapi, dari sisi lain, adalah sesuatu yang baik bagi mereka karena hukuman yang diterapkan terhadap mereka ini merupakan kaffarah untuk mereka berdua. Karena apabila mereka dikenai hukuman dunia, maka tidak akan dikenai hukuman akhirat. Disamping itu, hal tersebut pada tempat lain merupakan suatu kebaikan karena untuk melindungi harta benda, kehormatan dan keturunan.

rujukan
Aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah Ibnu ‘Utsimin

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: