Asma Allah Ada yang Muta’addi dan ada yang Lazim

Sebagai seorang muslim kita wajib beriman kepada Asma Allah Ta’ala baik yang talah Dia sebutkan di dalam Al-Qur’an maupun yang telah Rasulullah jelaskan dalam sunnahnya yang shahih. Dan juga kita harus beriman kepada Asma Allah yang tidak Allah sebutkan atau gha’ib. Asma Allah Ta’ala ada yang Muta’addi (memiliki Obyek) dan ada yang Lazim (Tanpa Obyek)

Yang dimaksud Nama muta’addi adalah nama yang menunjukkan sifat muta’addi, yakni ada obyek yang dihasilkan (menjadi konsekuensi) dari nama itu.
Apabila Asma’ Allah menunjukkan sifat muta’addi, maka pasti ada tiga perkara yang dikandung dalam asma tersebut :
Pertama : Bahwa Asma’ Allah itu adalah nama-Nya.

Kedua : Bahwa dibalik asma’ tersebut terdapat sifat-sifat yang dikandungnya.

Ketiga : Bahwa dibalik asma’ tersebut terdapat sesuatu yang menjadi konsekuensi dan hukumannya.

Misalnya: As-Samii’. Nama ini adalah nama muta’addi, ia mengandung tiga perkara:
Pertama : As-Samii’ sebagai nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua : Nama tersebut mengandung sifat samii’ (mendengar) bagi Allah.
Ketiga : Hukum serta konsekuensi yang dikandungnya adalah Allah maha Mendengar perkataan rahasia dan bisik-bisik ,sebagaimana firman-Nya: Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (al-Mujadilah:1).

Karena inilah ulama berpendapat bahwa para begal/perampok jalanan terbebas dari hukuman manakala mereka bertaubat. Para ulama berdalil dengan firman Allah :Kecuali orang-orang yang bertaubat diantara mereka sebelum kamu dapat menguasai mereka maka ketahuilah bahwasannya Allah Ghafuur (Maha Pengampun) lagi Rahiim (Maha Penyayang). (al-Maidah :34).
Sebab dua asma’ Allah yang terdapat dalam ayat ini yaitu nama Ghafuur dan Rahiim mengandung hukum dan konsekuensi bahwa Allah dengan taubat mereka telah mengampuni dosa-dosa mereka dan telah memberikan kasih sayang dengan cara dibebaskannya mereka dari hukuman.
Adapaun yang dimaksud Nama lazim ialah nama yang tidak mengandung sifat Muta’addi atau tidak membutuhkan obyek.

Adapun Asma’ Allah yang tidak menunjukkan sifat muta’addi ini mempunyai maka hanya mengandung dua perkara saja:
Pertama : bahwa Asma’ tersebut adalah Nama Allah saja.

Kedua : bahwa dibalik nama tersebut terdapat sifat yang dikandungnya.

Contohnya: Al-Hayyu. Nama ini adalah nama lazim tidak menunjukkan sifat muta’addi, maka hanya mengandung dua perkara yaitu :
Pertama : Bahwa Al-Hayyu merupakan Nama Allah.
Kedua : Bahwa dibalik nama ini terkandung sifat hayat (Maha Hidup) bagi-Nya.

Maksudnya, dari nama al-Hayyu semata-mata, tidak menunjukkan bahwa Dia menghidupkan makhluk-Nya. Nama Al-Hayyu hanya menunjukkan sifat maha Hidup bagi Dzat-Nya saja.

Lain halnya dengan nama as-Samii’ di atas. Atau misal lainnya al-Khaliq (Maha Pencipta). Nama ini menunjukkan nama Muta’addi, yang disamping menunjukkan nama serta sifat Allah, juga menunjukkan akibat berupa terciptanya para mahluk.

Semua Asma’ Allah Adalah Tauqifiyah
Tauqifiyah artinya adalah tergantung pada dalil Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. dan ini merupakan kaidah yang keempat.

Berdasarkan kaidah ini, maka dalam menetapkan Asma’ Allah harus bergantung pada apa yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah Nabawiyyah, tanpa menambah atau mengurangi, hal itu disebabkan beberapa hal :
Pertama : karena akal tidak mungkin dapat menjangkau nama-nama Allah bila Allah tidak memperkenalkannya sendiri kepada Akal kita. Karenanyalah untuk mengenal nama-nama Allah harus menuruti apa kata nash.

Kedua : karena Firman Allah Ta’ala :Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. Katakanlah :Sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan). Mengada-adakan terhadap Allah apa apa yang kamu tidak ketahui. (Al-A’raf :33).

Ketiga : karena menamai Allah demngan nama yang Allah sendiri tidak menamainya, atau mengingkari nama yang dengannya Allah telah menamai dirinya, merupakan tindakan kejahatan kepada Allah Ta’ala.

Dengan demikian wajib beradab kepada Allah dan wajib membatasi diri dalam menamai Allah hanya sebatas apa yang telah ditetapkan oleh nash.

Atas dasar itulah para ulama salaf berpandangan bahwa ada hukum-hukum yang harus dipelihara dalam pembahasan mengenai Asma’ Allah. Antara lain adalah sebagai berikut :
Pertama : Menetapkan nama Allah sesuai dengan nama yang ditetapkan sendiri oleh Allah dalam Al-Qur’an al-Karim dan dalam Sunnah Nabawiyah yang shalih.

Kedua : Tidak menolak nama Allah yang sudah ditetapkan sendiri oleh Allah melalui al-Quir’an al-Karim maupun melalui sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketiga : Tidak menamai Allah dengan nama yang Allah sendiri tidak menamai diri-Nya, tidak dalam Al-Qur’an al-Karim dan tidak pula dalam sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hal yang demikian itu karena tidak ada jalan lain untuk mengenal nama-nama Allah Azza wa Jalla kecuali hanya melalui satu jalan saja, yaitu jalan wahyu (yakni Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah). Maka jelaslah bahwa akal fikiran tidak berhak ikut campur sama sekali dalam penetapan nama-nama Allah. Akal fikiran hanya berfungsi untuk memahami dalil.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: