Tauhid Asma’ wa Shifat – 2

Jumlah Nama Allah Tidak Terbatas Pada Bilangan tertentu
Ini merupakan kaidah kelima. Kaidah yang dianut oleh umat salaf dan para imamnya serta menjadi pernyataan yang disepakati mayoritas ulama. Hanya sedikit kelompok mutaakhirin yang berpendapat lain seperti IbnuHazm dan lain-lain. (Dinukil dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah XXII/482). Dalilnya ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang masyhur :..Aku memohon kepada-Mu, nama yang dengannya Engkau telah menamakan diri-Mu, atau nama yang engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau nama yang telah Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluk-Mu atau nama yang Engkau simpan dalam rahasia ilmu ghaib disisi-Mu.(Hadits shahih, merupakan pengalan dari hadits Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan lain-lain.).
Segi pendalilannya ialah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam : ..atau nama yang Engkau simpan dalam rahasia ilmu ghaib disisi-Mu...
Kalimat ini menunjukkan bahwa Nama-nama Allah lebih dari 99 nama, dan bahwa Allah memiliki nama-nama serta sifat-sifat yang hanya diketahui oleh-Nya dan menjadi rahasia ilmu-Nya.
Berdasarkan kenyataan di atas, maka hadits yang menjelaskan bahwa Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa menghitungnya tentu akan masuk surga., tidaklah berarti bahwa itu merupakan pembatasan jumlah nama-nama Allah, atau menunjukkan bahwa Dia tidak memiliki nama-nama lain. Seandainya hadits tersebut mempunyai arti sebagai pembatas jumlah seluruh asma’ Allah, tentu akan lebih pas jika bunyinya sebagai berikut :Sesungguhnya nama-nama Allah hanya ada sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa yang menghitungnya tentu akan masuk surga
Hadits sembilan puluh sembilan nama-nama ini hanya merupakan penjelasan bagi adanya jaminan masuk sorga untuk siapa saja yang menghitung atau menghapal kesembilan puluh sembilan nama itu.
Untuk lebih jelasnya bisa digambarkan perumpamaan berikut : Fulan mempunyai seratus orang hamba sahaya yang dipersiapkan untuk dijual, atau memiliki seratus perisai yang dipersiapkan untuk berjihad atau seratus dirham untuk di shadaqahkan. Ini tidak berarti bahwa fulan hanya memiliki seratus hamba sahaya, perisai atau dirham itu saja. Mungkin sekali ia memiliki lebih dari harta-harta diatas yang tidak dipersiapkannya untuk kepentingan-kepentingan tersebut.
Satu hal lagi yang perlu dimengerti bahwa tidaklah benar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menetapkan secara berurut nama-nama Allah beserta jumlahnya secara tertentu. Riwayat-riwayat hadits tentang itu adalah dha’if.
Sikap Ilhad Terhadap Asma’ Allah
Ilhad terhadap asma’ Allah artinya melakukan penyimpangan terhadap apa yang seharusnya dalam hal ‘asma Allah Ta’ala.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam al-Qowa’idul Mutsla membagi sikap ilhad (menyimpang) terhadap asma’ Allah ini ke dalam beberapa macam :
Pertama : Mengingkari salah satu nama Allah atau mengingkari sifat serta hukum yang dikandungnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlu Ta’thil (para penolak sifat) seperti Jahmiyah dan yang lainnya.
Kedua : Beranggapan bahwa dibalik setiap nama Allah ada sifat yang menyerupai sifat-sifat makhluk-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlu Tasybih (kaum yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat Makhluk-Nya).
Ketiga : Menamai Allah dengan nama yang Allah Ta’ala sendiri tidak menamai diri-Nya dengan nama tersebut, sebagaimana penamaan kaum nashara kepada Allah dengan nama Tuhan Bapak, atau penamaan kaum failasuf kepada Allah dengan istilah faktor X. Padahal sudah dimaklumi bahwa seluruh nama Allah adalah tauqifiyah (tergantung pada dalil), maka menamai Allah dengan yang bukan nama-Nya. Dan ini adalah batil.
Keempat : Memetik nama dari nama-nama Allah untuk kemudian dijadikan sebagai nama patung-patung sebagaimana yang dilakukan oleh kaum musyrikin, yaitu ketika memberi kepada patung mereka dengan nam Uzza, yang merupakan petikan atau pecahan dari kata (isytiqaq) dari nama Allah; Al-Aziz, atau nama Lata yang merupakan pecahan kata dari nama Allah; al-ilah menurut salah satu diantara dua pendapat.
Ilhad dengan segala bentuknya diatas adalah haram, sebab Allah mengancam orang-orang yang ilhad/mulhid (menyimpang) dengan firman-Nya :Dan tingkatkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namanya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(al-A’raf:180).
Selanjutnya diantara hukum ilhad, ada yang karenanya seseorang menjadi musyrik atau kafir, menurut apa yang dituntut oleh dalil-dalil syar’i. Wallahu A’lam

4 comments so far

  1. mawardi on

    rasulullah nyata

  2. centrifugal on

    waduh kang, itu koq pakai rujukan ulama saudi arabia?
    sampean belom tahu ya kalau mereka itu wahabi. mereka menolak praktik2 ahlussunnah wal jama’ah. paham tauhidnya pun nyeleneh. mereka mengharamkan tashawwuf. jadi mending di delete aja kang artikel ini. matur nuwun kang

  3. samikek on

    apa arti kalimat lhaillah ha’illaallah ya sebenernya??
    klo menurut ada sholat tu sulit atau mudah?

  4. abucharis on

    Alchamdulillah, semoga Allah meneguhkan hati para pencari ilmu dalam menegakkan tauhid. Semoga melalui artikel ini Allah bukakan hati para pembacanya untuk menetapi jalan salafushsholih.
    Sampaikan terus ya, Akhiy!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: